BERITA TERKINI
IHSG Ditutup Menguat, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed dan Stimulus Domestik

IHSG Ditutup Menguat, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed dan Stimulus Domestik

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (13/1) sore, di tengah perhatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed).

IHSG mengakhiri perdagangan naik 63,58 poin atau 0,72% ke level 8.948,29. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan naik 12,31 poin atau 1,42% ke posisi 878,86.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, menilai pergerakan IHSG ditopang sentimen eksternal dan internal, meski indeks bergerak variatif sepanjang hari.

Dari sisi global, Nico menyebut pelaku pasar menantikan data makroekonomi AS, terutama laporan inflasi terbaru, untuk membaca arah kebijakan The Fed. Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali pada tahun ini mulai Juni 2026. Namun, ia mengingatkan bahwa kejutan positif pada inflasi dapat mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter.

Sebelumnya, laporan penggajian non-pertanian pekan lalu menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS berada di bawah perkiraan untuk Desember 2025, yang dinilai memperkuat prospek kebijakan The Fed yang lebih lunak.

Dari kawasan Asia, Jepang melaporkan surplus neraca transaksi berjalan meningkat menjadi 3.674,1 miliar yen pada November 2025, dari 3.338,9 miliar yen pada periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut juga melampaui ekspektasi pasar sebesar 3.594 miliar yen.

Dari dalam negeri, Nico menyoroti rencana pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan sejumlah kebijakan stimulus pada 2026. Stimulus itu disebut berfokus pada program magang, insentif PPh final UMKM, PPh DTP, PPN DTP perumahan, serta diskon iuran JKK/JKM. Menurutnya, paket tersebut merupakan upaya menjaga daya konsumsi rumah tangga agar ketahanan ekonomi domestik tetap terjaga.

Meski demikian, Nico juga mengingatkan adanya potensi tekanan pasar seiring aksi ambil untung (profit taking). Ia menambahkan sentimen lain, yakni proyeksi Citigroup yang memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 akan melambat dari batas aman dan diproyeksikan mencapai 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sementara aturan fiskal Indonesia membatasi defisit sebesar 3% dari PDB. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi berdampak pada perlambatan ekonomi secara keseluruhan.

Secara intraday, IHSG dibuka menguat, lalu bergerak ke teritori negatif hingga penutupan sesi pertama. Pada sesi kedua, IHSG kembali menguat dan bertahan di zona hijau sampai penutupan.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dengan sektor barang baku memimpin kenaikan sebesar 2,05%, disusul sektor industri 1,87% dan sektor properti 0,64%. Adapun empat sektor melemah, dengan sektor barang konsumen non primer turun paling dalam 2,11%, diikuti sektor transportasi & logistik 0,94% serta sektor energi 0,68%.

Saham-saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain SOLA, ASPR, MBMA, WEHA, dan APLN. Sementara saham dengan pelemahan terbesar yakni DKHH, VICI, DEWA, GTSI, dan NINE.

Frekuensi perdagangan tercatat 3.805.222 transaksi, dengan volume 52,89 miliar lembar saham dan nilai transaksi Rp33,41 triliun. Pada penutupan, sebanyak 348 saham menguat, 327 saham melemah, dan 131 saham tidak berubah.