BERITA TERKINI
IHSG Diproyeksikan Bergerak Variatif dan Cenderung Melemah, Support di 7.716

IHSG Diproyeksikan Bergerak Variatif dan Cenderung Melemah, Support di 7.716

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 4,73 persen ke level 7.935 pada pekan lalu. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menilai pelemahan tersebut terutama dipengaruhi sentimen Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selain itu, pasar juga merespons sentimen dari Moody’s yang memangkas outlook Indonesia dan beberapa emiten.

Dari sisi global, Imam menyebut sentimen geopolitik Amerika Serikat-Iran turut menjadi perhatian. Risiko geopolitik dinilai masih tinggi setelah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi baru terkait ekspor minyak Iran.

Dengan masih kuatnya faktor kehati-hatian di tingkat global dan domestik, Imam memproyeksikan pergerakan IHSG pada pekan ini akan bervariasi namun cenderung melemah terbatas. Ia menyebut level support berada di 7.716 dan resistance di 8.207, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi pada Senin, 9 Februari 2026.

Memasuki periode 9–13 Februari 2026, perhatian pelaku pasar diperkirakan tertuju pada sejumlah rilis data ekonomi dari Amerika Serikat, Cina, dan Indonesia. Di Amerika Serikat, data inflasi menjadi sorotan dengan proyeksi penurunan ke 2,5 persen secara tahunan (year on year). Sementara di Cina, pasar mencermati rilis inflasi yang diproyeksikan turun menjadi 0,4 persen secara tahunan.

Di dalam negeri, investor menunggu rilis penjualan ritel Desember 2025 sebagai indikator daya beli masyarakat menjelang akhir tahun, serta data penjualan mobil Januari 2026 untuk membaca tren konsumsi dan permintaan domestik pada awal tahun. Imam menyatakan data-data tersebut akan menjadi konfirmasi lanjutan atas ketahanan konsumsi rumah tangga yang selama ini disebut menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Selain data ekonomi, pasar juga diperkirakan masih mencermati perkembangan kebijakan Moody’s, khususnya dampaknya terhadap perusahaan-perusahaan Indonesia yang mengalami penurunan outlook. Menurut Imam, perubahan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi risiko, biaya pendanaan, dan sentimen investor.