BERITA TERKINI
IHSG Berpeluang Menguat Usai Libur Panjang, Namun Diperkirakan Masih Terbatas

IHSG Berpeluang Menguat Usai Libur Panjang, Namun Diperkirakan Masih Terbatas

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada perdagangan Selasa (17/3/2026) ke level 7.106,84, naik 1,20% dibandingkan posisi sebelumnya di 7.022,29. Data tersebut mengacu pada aplikasi IDX Mobile yang diakses pada Selasa (24/3/2026).

Analis pasar modal sekaligus pendiri komunitas Republik Investor, Hendra Wardana, menilai pergerakan IHSG setelah libur panjang Idulfitri dan Nyepi akan dipengaruhi sentimen global serta faktor musiman di dalam negeri.

Menurut Hendra, IHSG berpotensi menguat pada awal pembukaan bursa pascalibur. Namun, penguatan tersebut diperkirakan masih terbatas dan cenderung berada dalam fase konsolidasi, dengan peluang menguji area resistance di kisaran 7.150–7.200.

Ia menjelaskan, secara historis pasar saham kerap menunjukkan pola pemulihan teknikal setelah libur panjang Lebaran. Sebelum libur, investor biasanya melakukan aksi ambil untung dan bersikap menunggu, sementara setelah libur berakhir aliran dana cenderung kembali masuk ke pasar.

Dari sisi eksternal, penguatan pasar saham global, terutama di Amerika Serikat dan Asia, dinilai dapat menjadi katalis. Penguatan ini disebut didorong meredanya tensi geopolitik serta mulai stabilnya harga energi, sehingga menjadi sentimen positif awal bagi pasar saham Indonesia.

Meski demikian, Hendra mengingatkan investor tetap mencermati dinamika global. Jika tensi geopolitik kembali meningkat, harga energi melonjak, atau kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) menjadi lebih ketat, IHSG berpotensi tertekan dan menguji level 7.000 yang disebutnya sebagai batas psikologis penting untuk menjaga tren tetap sehat.

Ia juga menyoroti harga emas yang cenderung menurun sebagai sinyal meredanya kekhawatiran pasar, seiring investor mulai kembali masuk ke aset berisiko seperti saham. Mengutip TradingEconomics per pukul 15.40 WIB, harga emas berada di kisaran US$4.402 hingga US$4.404.

Dari sisi strategi, Hendra menyarankan pendekatan buy on weakness, yakni melakukan pembelian bertahap saat harga melemah, bukan sekaligus dalam jumlah besar. Ia menyarankan investor mencermati saham dengan katalis positif, baik dari kinerja, aksi korporasi, maupun sektor yang dinilai diuntungkan dari stabilisasi global seperti media, investasi, dan konsumer.

Secara year-to-date (ytd), IHSG tercatat masih melemah 17,81%. IHSG sempat mencatat level tertinggi 9.075,41 pada 15 Januari 2026, sebelum kemudian melanjutkan tren penurunan sepanjang Februari hingga Maret 2026 dan menyentuh level terendahnya sejak awal tahun pada periode tersebut.