Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan melanjutkan penguatan pada perdagangan Rabu (25/3/2026) setelah libur panjang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri 2026. Arah pasar disebut masih akan banyak dipengaruhi sentimen global, terutama perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
Ekonom sekaligus praktisi pasar modal Hans Kwee menilai IHSG berpotensi bergerak terbatas dengan kecenderungan menguat, meski tetap dibayangi tekanan jual pada awal pembukaan.
“Pembukaan IHSG di hari Rabu dibayangi potensi tekanan jual, tetapi pulihnya pasar keuangan pasca penundaan serangan Trump ke infrastruktur listrik dan energi Iran, membuka peluang IHSG bergerak terbatas dengan support di level 7.100 sampai 7.000 dan resistance di level 7.250 sampai 7.349,” ujar Hans, Selasa (24/3/2026).
Menurut Hans, selama libur panjang Lebaran pasar keuangan global bergerak fluktuatif seiring ketidakpastian perang AS-Israel dengan Iran. Ia mengungkapkan, sebelumnya Donald Trump mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik di Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka dalam 48 jam. Iran kemudian merespons dengan ancaman penghancuran infrastruktur energi dan minyak di kawasan Teluk jika fasilitas listrik negaranya diserang.
Perkembangan terbaru terjadi pada Senin (23/3/2026), ketika Trump menyatakan AS menunda serangan terhadap fasilitas listrik di Iran selama lima hari. Pernyataan tersebut disebut mendorong penguatan bursa saham di Wall Street dan Eropa pada hari yang sama.
“Pasar ekuitas Uni Eropa menguat setelah penundaan serangan Trump. Kawasan Uni Eropa dan Asia sangat terpengaruh harga energi, karena ketergantungan pada impor melalui Selat Hormuz,” kata Hans.
Hans juga menyinggung pernyataan Trump mengenai pembicaraan konstruktif antara AS dan Iran untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah. Namun, pernyataan itu dibantah Iran, dan Iran disebut telah meluncurkan serangan baru ke Israel serta beberapa lokasi di Timur Tengah.
Ia berpendapat serangan Iran ke pabrik gas di Qatar dapat menghapus 17% pasokan ekspor Liquefied Natural Gas (LNG) selama tiga hingga lima tahun di negara itu. “Artinya perang ini akan punya dampak yang cukup panjang untuk pasokan minyak dan gas dunia,” ucapnya.
Dari sisi kebijakan moneter, Hans memperkirakan bank sentral AS, The Fed, akan menahan suku bunga acuannya sepanjang 2026, berubah dari ekspektasi pemotongan sebesar 50 basis poin (bps) sepanjang tahun. Ia juga menyebut masih ada peluang kenaikan 25 bps pada Desember 2026.
Pada pertemuan FOMC terakhir, Kamis (19/3/2026), The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50–3,75%.
Di pasar global, bursa saham Eropa pada perdagangan Senin (23/3/2026) mencatat pergerakan beragam: Euro Stoxx 50 naik 0,61%, FTSE 100 Inggris turun 0,24%, DAX Jerman naik 1,22%, dan CAC naik 0,79%.
Sementara itu, bursa saham AS di Wall Street kompak menguat pada hari yang sama. Nasdaq Composite naik 1,22% ke 24.188,59, S&P 500 naik 1,15% ke 6.581,00, dan Dow Jones menguat 1,38% ke 46.208,47.
Di kawasan Asia, penutupan perdagangan Selasa (24/3/2026) juga menunjukkan penguatan. Indeks Nikkei naik 804,51 poin atau 1,56% ke 52.320,00, Shanghai menguat 68,00 poin atau 1,78% ke 3.881,28, Hang Seng naik 669,03 poin atau 2,74% ke 25.051,50, dan Straits Times menguat 31,75 poin atau 0,66% ke 4.870,32.
Sebelum memasuki libur panjang, IHSG pada penutupan perdagangan Selasa (17/3/2026) tercatat menguat 84,55 poin atau 1,20% ke posisi 7.106,84.