BERITA TERKINI
IHSG Berpeluang Menguat, Analis Ingatkan Risiko Koreksi Jika Belum Tembus 8.050

IHSG Berpeluang Menguat, Analis Ingatkan Risiko Koreksi Jika Belum Tembus 8.050

JAKARTA — Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan berpeluang menguat pada hari ini. Meski demikian, investor diingatkan untuk tetap waspada karena potensi penguatan dinilai masih terbatas.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun tajam 2,08 persen. Di tengah pelemahan tersebut, investor asing tercatat melakukan beli bersih (net buy) sebesar Rp775 miliar.

Adapun saham yang paling banyak dibeli investor asing meliputi BMRI, BUMI, TLKM, ANTM, dan ASII. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengatakan IHSG berpotensi menguat, namun ruang kenaikannya dinilai terbatas.

Fanny menekankan kehati-hatian selama IHSG belum mampu menembus level 8.050. Menurutnya, jika indeks belum “break” di atas 8.050, pergerakan pasar masih rentan mengalami koreksi lanjutan.

Untuk perdagangan hari ini, Fanny memperkirakan IHSG bergerak pada area support 7.780–7.850, dengan resistansi di kisaran 8.000–8.050.

Dari sisi global, bursa saham dunia ditutup bervariasi pada akhir pekan lalu, dipengaruhi pergerakan saham-saham teknologi. Di Wall Street, indeks menguat setelah saham teknologi tertekan dalam beberapa hari sebelumnya. Fanny menyebut pemulihan tersebut ditopang rebound harga bitcoin yang sebelumnya melemah lebih dari 50 persen dari level tertingginya.

Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones Industrial Average naik 2,47 persen, S&P 500 menguat 1,97 persen, dan Nasdaq Composite naik 2,18 persen. Namun, Fanny menilai tekanan masih membayangi sebagian saham perangkat lunak. ServiceNow disebut menjadi pusat aksi jual di sektor teknologi seiring kekhawatiran terhadap disrupsi kecerdasan buatan (AI).

Sementara itu, bursa saham Asia kompak melemah pada akhir pekan lalu. Fanny menyoroti saham-saham di Korea Selatan yang disebut sebagai barometer investasi kecerdasan buatan sempat turun hingga 5,1 persen sebelum kemudian rebound.

Fanny juga mencermati perkembangan di pasar tenaga kerja AS. Berdasarkan survei Challenger, Gray & Christmas, jumlah pemutusan kerja (layoff) di AS melonjak pada Januari dan menjadi yang tertinggi dalam 17 tahun untuk periode bulan tersebut.