Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) Akhmad Maruf Maulana menilai dinamika harga lahan di kawasan industri tidak bisa dilihat dari satu sisi. Menurutnya, pengelolaan kawasan industri bukan semata aktivitas menyewakan atau menjual lahan, melainkan juga berkaitan dengan peran pelaku yang terlibat langsung dalam aktivitas industri di dalamnya.
Maruf menyampaikan, HKI tidak hanya berperan sebagai penyedia lahan atau gudang, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan industri yang berjalan di kawasan tersebut. Ia menanggapi adanya pandangan yang menyebut harga lahan mahal dengan menekankan bahwa pengelola kawasan juga merasakan langsung dinamika itu sebagai pelaku industri.
Pernyataan tersebut disampaikan Maruf usai pelantikan Dewan Pengurus HKI di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), sebagaimana dikutip Kamis (22/01/2026).
Di sisi lain, Maruf menilai tekanan geopolitik global yang belakangan meningkat justru membuka peluang baru bagi Indonesia. Menurutnya, perang maupun konflik internasional mendorong sejumlah perusahaan luar negeri mencari basis produksi yang dinilai lebih aman.
Ia mengatakan situasi itu berpotensi membawa arus investasi ke kawasan industri nasional. Gelombang relokasi disebut tidak hanya datang dari sejumlah negara di Asia, tetapi juga mulai merambah dari Eropa Timur.
Maruf menyebut Indonesia mulai dilirik sebagai tujuan baru investasi manufaktur dan industri strategis, baik di kawasan industri di Pulau Jawa maupun di luar Jawa. Ia mencontohkan adanya minat dari Rusia, dengan klaim masuknya 10 perusahaan ke kawasan industri di Jawa dan luar Jawa.

