PURWAKARTA — Memasuki 43 tahun operasional di Indonesia, Hino menegaskan kembali posisinya di sektor transportasi melalui penguatan ekosistem industri lokal, investasi manufaktur, serta layanan purna jual untuk menjaga operasional pelanggan. Komitmen tersebut ditunjukkan antara lain lewat peningkatan penggunaan komponen dalam negeri dan aktivitas ekspor dari basis produksi di Indonesia.
PT Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) di Purwakarta menjadi pusat produksi terintegrasi Hino. Fasilitas ini berdiri di atas lahan 296.000 m², didukung 1.548 tenaga kerja, serta memiliki kapasitas produksi hingga 75.000 unit per tahun. Pabrik tersebut memproduksi berbagai kategori kendaraan, mulai dari light duty, medium duty, hingga bus, dengan standar kualitas dari Hino Motors Limited, Jepang.
Dalam hal kandungan lokal, Hino menyebut nilai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) produknya saat ini berada di atas 40% dengan Bobot Manfaat Perusahaan (BMP) sebesar 14,10%. Direktur PT HMMI Harianto Sariyan mengatakan capaian itu mencerminkan strategi jangka panjang untuk mendorong pemanfaatan komponen lokal, pengembangan pemasok dalam negeri, serta penguatan rantai pasok industri otomotif nasional. Pernyataan tersebut disampaikan saat kunjungan media ke pabrik Hino di Purwakarta, Rabu (21/1/2026).
Di sisi lain, Hino menyoroti tantangan pasar domestik akibat masuknya truk impor asal China. Menurut perusahaan, kondisi ini turut dipengaruhi kebijakan yang dinilai belum melindungi produsen yang telah berinvestasi di dalam negeri. Dampaknya, pada 2025 utilisasi produksi pabrik Hino turun ke rata-rata 25%, dibanding kondisi normal di kisaran 35–40%.
Harianto menilai terdapat ketimpangan antara model bisnis impor dan manufaktur lokal. Ia menyebut kegiatan impor dapat dijalankan dengan struktur organisasi yang jauh lebih kecil, sementara manufaktur melibatkan ribuan pekerja dan rantai pasok panjang. Ia juga menyampaikan bahwa hingga kini Hino masih mempertahankan tenaga kerja dan belum melakukan pemutusan hubungan kerja, namun mengingatkan risiko jika situasi tidak segera diatur. Harianto menyebut, tanpa pembatasan dari pemerintah terhadap truk impor, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis di industri otomotif.
Sejalan dengan itu, Supply Chain, Marketing & Communication Division Head HMSI Wibowo Santoso menyampaikan bahwa volume truk impor China yang masuk disebut setara dengan total produksi Hino pada 2025. Wibowo juga menyoroti aspek fiskal, termasuk beban biaya yang dinilai lebih ringan pada produk impor, sementara kebutuhan bahan baku seperti baja yang dibeli industri lokal dikenakan bea masuk 5–10%.
Menghadapi tekanan pasar, Hino menyatakan telah membuka dialog dengan Kementerian Perindustrian untuk mendorong kebijakan yang membedakan perlakuan antara produk impor utuh dan produk rakitan lokal. Sambil menunggu regulasi, perusahaan memperkuat strategi layanan purna jual, terutama memastikan ketersediaan suku cadang agar waktu henti kendaraan pelanggan dapat ditekan.
Wibowo juga menyebut pasar masih belum menentu seiring penurunan di sektor pertambangan. Karena itu, Hino berupaya mengembangkan portofolio ke sektor logistik dan proyek pemerintah. Ia menambahkan bahwa pangsa pasar Hino di segmen logistik meningkat, serta perusahaan melihat peluang dari proyek koperasi Merah Putih yang diumumkan pemerintah.
Di luar pasar domestik, Hino menekankan peran Indonesia sebagai basis produksi untuk pasar global. Sejak ekspor perdana pada 2011, Hino Indonesia mengekspor kendaraan dalam bentuk utuh (CBU), terurai (CKD), serta komponen ke sejumlah negara, termasuk Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Jepang, Taiwan, Pakistan, Bolivia, dan Haiti. Ekspor tersebut disebut memperkuat posisi Indonesia bukan hanya sebagai pasar, tetapi juga sebagai salah satu basis produksi strategis.

