BERITA TERKINI
Hari Penerbangan Sipil Internasional: Konektivitas Malang Raya Menguat, Penumpang 2025 Diproyeksi Turun

Hari Penerbangan Sipil Internasional: Konektivitas Malang Raya Menguat, Penumpang 2025 Diproyeksi Turun

Setiap 7 Desember, dunia memperingati Hari Penerbangan Sipil Internasional (International Civil Aviation Day) sebagai pengingat peran penerbangan sipil dalam menghubungkan manusia, memperlancar mobilitas, dan mendorong pembangunan ekonomi global. Momentum ini dinilai relevan bagi Malang Raya, mengingat layanan penerbangan dari bandara lokal berpotensi memperkuat konektivitas wilayah, terutama untuk pariwisata, perdagangan, dan mobilitas warga di tengah dinamika urbanisasi.

Hari Penerbangan Sipil Internasional pertama kali ditetapkan oleh International Civil Aviation Organization (ICAO) pada 1994, kemudian diresmikan Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Resolusi A/RES/51/33 pada 1996. Peringatan ini menegaskan bahwa penerbangan sipil bukan sekadar moda transportasi, melainkan bagian penting dari jaringan konektivitas antarwilayah dan antarnegara.

Di Indonesia, peringatan tersebut kerap menjadi ruang refleksi terhadap kondisi bandara, layanan penerbangan, dan aksesibilitas, termasuk di wilayah seperti Malang Raya. Keberadaan bandara serta jalur penerbangan ke sejumlah kota besar dinilai membuka peluang bagi wisatawan, pelaku usaha, dan pekerja migran untuk menjangkau Malang dengan lebih cepat. Dampaknya dapat dirasakan pada sektor pariwisata, perdagangan, UMKM, hingga mobilitas tenaga kerja.

Dalam konteks ekonomi dan sosial, penerbangan juga dipandang sebagai penggerak yang mempercepat distribusi barang, memperluas pasar, dan menjembatani hubungan wilayah rural dan urban. Data dari Bandara Abdulrachman Saleh Malang menunjukkan peran penerbangan sipil sebagai salah satu penopang konektivitas, logistik, dan mobilitas warga.

Kepala UPT Bandara Abdulrachman Saleh Malang Dishub Jawa Timur, Purwo Cahyo Widyatmoko, menyampaikan bahwa hingga akhir 2025 arus penumpang diperkirakan mencapai 450.000 orang. Angka ini lebih rendah dibanding 2024 yang tercatat 513.000 penumpang, atau turun sekitar 12,28 persen.

Meski demikian, pengembangan rute baru tetap berjalan. Mulai 15 Desember 2025, Bandara Abdulrachman Saleh dijadwalkan melayani penerbangan Malang–Lombok. Rute baru yang dikategorikan sebagai rute wisata ini akan dioperasikan Lion Air menggunakan pesawat jenis ATR.

Dari sisi kontribusi ke daerah, UPT Bandara Abdulrachman Saleh Dishub Jawa Timur diprediksi menyetor Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur sekitar Rp 7,5 miliar pada 2025. Nilai tersebut lebih tinggi dibanding 2024 yang tercatat Rp 6,8 miliar.

Aktivitas penumpang dan pergerakan pesawat juga disebut mencerminkan posisi Bandara Abdulrachman Saleh sebagai pintu gerbang strategis, tidak hanya bagi warga Malang Raya, tetapi juga pelajar, wisatawan, pekerja migran, pelaku ekonomi, serta kebutuhan logistik. Salah satu contohnya terjadi pada masa angkutan Lebaran 2025, ketika tercatat 14 pergerakan pesawat (tiba dan berangkat) dalam satu hari dengan total 2.271 penumpang.

Di sisi lain, potensi penerbangan sipil dinilai masih belum tergarap optimal. Sejumlah kebutuhan yang disorot antara lain penambahan rute, peningkatan frekuensi penerbangan, serta kebijakan transportasi pendukung agar konektivitas udara dapat mendorong pemerataan ekonomi dan akses.

Peringatan Hari Penerbangan Sipil Internasional pun dipandang bukan sekadar seremonial, melainkan pengingat untuk mendorong pembenahan infrastruktur bandara, perluasan layanan penerbangan, serta dukungan bagi mobilitas warga dan pelaku UMKM. Bagi Malang Raya, penguatan konektivitas udara dinilai dapat memperluas dampak ekonomi lokal, mendukung pariwisata, serta memperlancar distribusi barang melalui jaringan yang lebih inklusif dan terjangkau.