BERITA TERKINI
Harga Timah Dunia Turun ke Kisaran USD46.000 per Ton, Tertekan Dolar AS dan Sentimen Suku Bunga

Harga Timah Dunia Turun ke Kisaran USD46.000 per Ton, Tertekan Dolar AS dan Sentimen Suku Bunga

Harga timah dunia kembali melemah dan bertahan di kisaran USD46.000 per metrik ton, seiring tekanan makroekonomi global dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membuat pergerakan harga timah diperkirakan masih rentan tertekan.

Setelah ditutup di level USD46.725 per metrik ton atau turun 3,19% pada perdagangan sebelumnya, harga timah kontrak tiga bulan di London Metal Exchange (LME) pada Rabu (18/3/2026) siang kembali turun 0,97% menjadi USD46.395 per metrik ton.

Tren penurunan juga terjadi pada kontrak timah di Shanghai Futures Exchange (SHFE). Pada penutupan sesi pagi, harga berada di 366.700 yuan per metrik ton, turun 3,45%.

Di sisi lain, harga rata-rata timah ekspor Indonesia di Jakarta Futures Exchange (JFX) masih bertahan di level USD48.000 per metrik ton hingga kemarin, dengan volume perdagangan yang disebut stabil. Menjelang libur panjang Idul Fitri, JFX mencatat transaksi timah murni batangan ekspor mencapai 2.080 metrik ton.

Tekanan pada harga timah terjadi setelah data inflasi AS melampaui ekspektasi. Situasi tersebut mendorong ekspektasi pasar bahwa penurunan suku bunga bank sentral AS (The Fed) akan tertunda secara signifikan. Indeks dolar AS dilaporkan melonjak di atas angka 100 dan mencapai level tertinggi dalam 10 bulan, sehingga menekan logam dasar yang diperdagangkan dalam denominasi dolar AS.

Selain faktor makro, perhatian investor terhadap sektor logam juga disebut menurun. Arus modal dilaporkan bergerak ke sektor lain seperti kimia, yang turut menambah tekanan pada harga timah.

Dari sisi pasokan, pasokan bijih timah di Myanmar disebut berangsur pulih. Sementara itu, perusahaan-perusahaan besar di Indonesia telah mengeluarkan kuota serta memulai produksi dan pengiriman yang stabil. Perkembangan ini mengurangi kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan di luar China.

Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) pertambangan mineral dan batu bara (minerba) tahun ini rampung pada akhir Maret 2026. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno menyatakan pihaknya akan mempercepat proses tersebut untuk mengejar tenggat waktu.

Dari sisi permintaan, meskipun ada pesanan yang terealisasi di industri seperti elektronik dan PV, konsumsi pengguna akhir secara keseluruhan disebut masih berada di bawah ekspektasi.