Jakarta — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengingatkan pelaku usaha untuk memperkuat efisiensi dan melakukan transformasi agar tetap bertahan di tengah lonjakan harga energi. Kenaikan harga minyak dipicu konflik antara AS-Israel dan Iran yang mendorong harga minyak melampaui USD 100 per barel, setara sekitar Rp1,5–Rp1,6 juta per barel.
Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, mengatakan gejolak besar di Timur Tengah semestinya menjadi momentum bagi perusahaan untuk mengencangkan ikat pinggang dan menjaga arus kas. Menurutnya, kemampuan menjaga cashflow menjadi kunci agar perusahaan tetap mampu menghadapi tekanan biaya.
Anindya menilai kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada biaya operasional, mengingat energi merupakan salah satu input penting bagi industri. Karena itu, ia menyebut Kadin di tingkat daerah dan asosiasi saat ini berfokus pada langkah efisiensi, sembari mendorong perusahaan memikirkan arah transformasi ke depan.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan industri bernilai tambah dan penguatan kerja sama dengan pemerintah. Langkah tersebut dinilai diperlukan agar proses industrialisasi tidak mudah terguncang ketika terjadi gangguan pada rantai pasok global.
“Kita akan melihat opsi-opsinya, tapi untuk sementara ini kita melakukan efisiensi. Sambil melihat arah perkembangan konflik di Timur Tengah,” kata Anindya.
Selain itu, Anindya turut mencermati kebijakan “Bekerja dari Rumah” yang direncanakan diberlakukan bagi aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai swasta setelah Lebaran, dengan tujuan penghematan di tengah tingginya harga minyak. Namun, ia menilai kebijakan tersebut perlu dikaji karena tidak semua sektor dapat menerapkannya.
Menurutnya, penerapan bekerja dari rumah di sektor industri manufaktur perlu dipertimbangkan secara khusus, mengingat target peningkatan produktivitas dan penguatan daya saing.