Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Senin, dipengaruhi dua sentimen utama yang menjadi fokus investor: peluang penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) serta perkembangan negosiasi perdamaian Ukraina yang berpotensi memengaruhi sanksi terhadap Rusia.
Minyak Brent tercatat naik 1,29% ke level USD 63,37 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,34% menjadi USD 58,84 per barel. Pergerakan ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap arah kebijakan moneter AS dan dinamika geopolitik.
Managing Director Onyx Capital Group, Jorge Montepeque, menyebut perhatian pelaku pasar saat ini sangat terpusat pada faktor makro. Menurutnya, pasar mencermati kemungkinan kesepakatan damai Ukraina serta kondisi ekonomi AS sebagai penentu utama sentimen di pasar energi.
AS dan Ukraina dijadwalkan kembali menyusun proposal perdamaian yang telah direvisi menjelang tenggat yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump pada Kamis. Revisi dilakukan setelah draf sebelumnya dinilai terlalu menguntungkan Moskow.
Montepeque menambahkan, meski sanksi AS terhadap perusahaan energi Rusia seperti Rosneft dan Lukoil mulai berlaku sejak Jumat, perhatian pasar tetap tertuju pada peluang terobosan damai. Jika ada kemajuan, sentimen tersebut justru dapat menekan harga minyak karena pasar akan memperhitungkan potensi tambahan pasokan dari Rusia.
Trump sebelumnya menetapkan batas waktu hingga Kamis untuk finalisasi proposal perdamaian. Namun, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan tenggat itu masih dapat berubah, bergantung pada perkembangan negosiasi kedua negara.
Apabila kesepakatan tercapai, peluang pencabutan sebagian sanksi dapat terbuka dan berpotensi melonggarkan tekanan terhadap ekspor minyak Rusia. Rusia disebut sebagai produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah AS pada 2024 berdasarkan data U.S. Energy Information Administration. Kembalinya akses minyak Rusia ke pasar global dinilai dapat mengubah dinamika pasokan dan ikut memengaruhi harga minyak dunia.
Selain isu geopolitik, pelaku pasar juga memantau ketidakpastian terkait kebijakan suku bunga AS. Investor masih menilai apakah Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga atau menahannya hingga kondisi ekonomi dinilai benar-benar stabil, yang turut memengaruhi selera risiko di pasar energi.
Peluang penurunan suku bunga meningkat setelah Presiden The Fed New York John Williams memberi sinyal bahwa penyesuaian dapat dilakukan “dalam waktu dekat”. Sugandha Sachdeva, pendiri SS WealthStreet di New Delhi, mengatakan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada Desember berpotensi meredam sentimen negatif sekaligus meningkatkan selera risiko global.
Sachdeva juga mencatat harga minyak telah turun hampir 17% sejak awal tahun, mencerminkan tekanan yang masih berlangsung. Namun, pada level yang lebih rendah, sebagian investor mulai melihat peluang pembelian bertahap dengan harapan terjadi pemulihan jika kondisi makro membaik.
Ke depan, kombinasi perkembangan kebijakan moneter AS dan arah negosiasi Ukraina diperkirakan tetap menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan harga minyak dalam beberapa pekan mendatang.

