Harga minyak dunia menguat pada Kamis (8/1), dengan minyak acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) menyentuh level tertinggi dalam dua pekan terakhir. Kenaikan terjadi saat investor mencermati perkembangan geopolitik global serta kekhawatiran terhadap pasokan dari sejumlah negara produsen utama.
Berdasarkan laporan Reuters pada Jumat (9/1), harga Brent naik sekitar 3,4% menjadi US$61,99 per barel. Sementara itu, WTI menguat sekitar 3,2% ke level US$57,76 per barel.
Pergerakan harga didorong kombinasi sejumlah faktor, termasuk perhatian pasar pada situasi di Venezuela. Amerika Serikat dilaporkan menyita dua kapal tanker yang terkait dengan negara tersebut, dengan salah satu kapal mengibarkan bendera Rusia.
Pasar juga menyoroti rencana kunjungan perwakilan kedutaan asing ke Venezuela. Di saat yang sama, Washington dan Caracas diketahui mengumumkan kesepakatan minyak senilai US$2 miliar, yang memunculkan harapan stabilisasi pasokan pada periode mendatang.
Meski demikian, analis menilai dampak langsung perubahan geopolitik terhadap pasokan jangka pendek masih terbatas. Proses pemulihan produksi dan pengiriman minyak dari Venezuela diperkirakan membutuhkan waktu yang tidak singkat.
Selain Venezuela, kekhawatiran pasar juga tertuju pada potensi gangguan pasokan dari Rusia, Irak, dan Iran. Risiko terhadap ekspor dari wilayah-wilayah tersebut membuat pelaku pasar tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
Kenaikan harga minyak ini terjadi meskipun laporan sebelumnya menunjukkan persediaan minyak mentah di Amerika Serikat turun lebih besar dari perkiraan.

