Harga minyak dunia menguat lebih dari 2% pada perdagangan pagi 17 Maret, berbalik arah setelah melemah pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini didorong kekhawatiran pasar terhadap potensi pengetatan pasokan menyusul kondisi di Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi distribusi energi global, yang dilaporkan hampir ditutup.
Minyak mentah Brent naik US$2,48 atau 2,5% dan ditutup pada US$102,69 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS meningkat US$2,42 atau 2,6% menjadi US$95,92 per barel. Pada sesi sebelumnya, Brent tercatat turun 2,8% dan WTI merosot hingga 5,3%.
Perhatian pelaku pasar tertuju pada Selat Hormuz yang mengangkut sekitar 20% minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Gangguan serius di jalur ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan biaya energi sekaligus menambah tekanan inflasi secara global.
Penutupan selat tersebut juga disebut berdampak pada pasokan dari Uni Emirat Arab (UEA), produsen minyak terbesar ketiga di Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Menurut laporan awal, UEA terpaksa menghentikan sebagian operasinya, dengan produksi minyak mentah dipangkas lebih dari setengah karena ketidakmampuan mengangkut melalui jalur laut strategis tersebut.
Seiring perkembangan itu, sejumlah lembaga keuangan internasional menaikkan proyeksi harga minyak jangka panjang. Bank of America (BofA) merevisi perkiraan harga minyak mentah Brent untuk 2026 menjadi US$77,50 per barel dari sebelumnya US$61. Standard Chartered juga menaikkan proyeksinya dari US$70 menjadi US$85,50 per barel.
Dalam catatan kepada klien, BofA memaparkan dua skenario. Jika hambatan dihilangkan dan arus pasokan pulih pada April, harga Brent diperkirakan dapat bertahan di sekitar US$70 per barel. Namun jika gangguan berlanjut hingga kuartal kedua, pasar berpotensi menghadapi harga sekitar US$85 per barel akibat kekurangan pasokan yang lebih lama.