Harga gas alam global kembali menjadi sorotan setelah mencatat lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir, disertai volatilitas yang dinilai ekstrem. Berdasarkan data yang dikutip dari Bloomberg, harga gas alam ditutup menguat 4,56% ke level US$ 5,27 per MMBtu. Secara mingguan, harganya telah melonjak 70,0% dan naik 52,90% secara tahunan (YoY).
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono, menilai pergerakan yang sangat fluktuatif itu tidak terjadi tanpa sebab. Menurut dia, salah satu pemicu utama berasal dari karakteristik fisik gas alam yang berbeda dibandingkan komoditas energi lain seperti batubara atau minyak mentah WTI.
Wahyu menjelaskan gas alam tergolong sulit disimpan karena membutuhkan infrastruktur khusus, seperti jaringan pipa atau tangki kriogenik untuk LNG. Ketika kapasitas penyimpanan terbatas atau terjadi gangguan teknis, harga dapat bergerak sangat cepat, baik melonjak maupun turun tajam.
Ia menambahkan, sifat infrastruktur gas yang kaku membuat pasar sangat sensitif terhadap gangguan pasokan. Penutupan terminal LNG akibat badai atau kebocoran pipa, misalnya, dapat memangkas pasokan secara instan dan memicu panic buying di pasar.
Selain faktor penyimpanan dan infrastruktur, Wahyu menyebut suplai dan cuaca juga kerap memperparah volatilitas. Pasar gas alam, terutama di belahan bumi utara, sangat bergantung pada proyeksi cuaca 10–14 hari ke depan. Jika prediksi berubah drastis—misalnya dari suhu dingin normal menjadi badai salju ekstrem—pelaku pasar cenderung buru-buru menutup posisi short.
Menurut Wahyu, situasi tersebut sering memicu short squeeze dan mendorong lonjakan harga yang tajam. Di sisi lain, sistem distribusi gas yang bersifat just-in-time membuat margin antara pasokan dan permintaan sangat tipis, sehingga ketidakseimbangan kecil dapat berdampak besar terhadap harga.
Wahyu juga menilai volatilitas ekstrem menjadikan gas alam menarik bagi spekulan dan hedge fund. Pergerakan harga harian yang bisa mencapai 5%–10% membuka peluang keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun, masuknya spekulan juga membuat harga rentan berbalik arah ketika terjadi aksi ambil untung secara massal, sehingga pola pergerakan kerap membentuk lonjakan tajam lalu koreksi cepat.
Di sisi lain, perkembangan teknologi LNG disebut turut mengubah lanskap pasar gas global. Jika sebelumnya harga gas lebih bersifat regional, kini pasar semakin terintegrasi secara global. Konsekuensinya, volatilitas tidak hanya dipengaruhi cuaca lokal, tetapi juga faktor geopolitik dan logistik global.
Dengan harga gas alam berada di atas US$ 5,0 per MMBtu dan volatilitas yang masih tinggi, Wahyu menilai pasar sedang berada dalam fase spekulatif. Ia mengingatkan investor yang terbiasa dengan saham atau batubara yang relatif lebih stabil agar mewaspadai fluktuasi gas alam yang bisa mengejutkan. Wahyu juga menilai harga gas berpotensi kembali normal dengan cepat jika proyeksi suhu di belahan bumi utara mulai menghangat.
Ke depan, Wahyu memandang gas alam lebih cocok dimanfaatkan untuk strategi trading jangka pendek. Untuk semester I-2026, ia memproyeksikan harga gas alam bergerak di kisaran US$ 2,5 hingga US$ 6,0 per MMBtu.

