Harga emas dan perak kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa seiring berlanjutnya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi yang mendorong investor mencari aset safe-haven. Ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), turut menambah momentum penguatan.
Pada perdagangan Rabu (14/1/2026), harga emas dunia naik 0,72% dan ditutup di level US$4.620,48 per troy ons. Dalam perdagangan intraday, emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.642,72 per troy ons. Penutupan tersebut menjadi yang tertinggi dalam sejarah dan menjadi kali pertama emas ditutup di atas level US$4.600 per troy ons.
Kenaikan itu terjadi setelah pada Selasa harga emas sempat melemah tipis 0,13%.
Sementara pada perdagangan Kamis (15/1/2026) hingga pukul 06.27 WIB, harga emas dunia di pasar spot terkoreksi 0,30% ke posisi US$4.606,59 per troy ons.
Penguatan emas pada Rabu juga diikuti oleh kenaikan perak. Alex Ebkarian, COO Allegiance Gold, menyebut permintaan dari berbagai pembeli dan menilai pasar berada dalam fase bullish struktural. “Semua jalan mengarah ke emas dan perak,” ujarnya.
Emas, yang tidak memberikan imbal hasil bunga, umumnya berkinerja baik ketika suku bunga rendah dan ketidakpastian meningkat.
Dari sisi geopolitik, ketegangan mencuat setelah Iran memperingatkan negara-negara tetangga yang menampung pasukan AS bahwa mereka akan menyerang pangkalan Amerika jika Washington campur tangan atas protes di negara tersebut. Di kawasan lain, para menteri Denmark dan Greenland dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance setelah Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan tuntutan AS untuk mengendalikan Greenland.
Di sisi data ekonomi, penjualan ritel AS pada November tercatat meningkat lebih tinggi dari perkiraan, didorong pemulihan pembelian kendaraan bermotor dan naiknya belanja rumah tangga di sektor lain. Data Biro Sensus Departemen Perdagangan AS pada Rabu menunjukkan penjualan ritel naik 0,6%, setelah pada Oktober tercatat turun 0,1% (revisi ke bawah). Survei ekonom memperkirakan kenaikan 0,4% setelah sebelumnya dilaporkan tidak berubah.
Biro Sensus disebut tengah mengejar ketertinggalan rilis data setelah penundaan akibat shutdown selama 43 hari. Laporan itu juga menyoroti belanja lebih banyak didorong oleh rumah tangga berpenghasilan tinggi, sementara konsumen berpenghasilan rendah menghadapi kesulitan akibat kenaikan biaya hidup.
Pemerintah AS pada Selasa melaporkan harga makanan meningkat paling tinggi dalam lebih dari tiga tahun pada Desember, meski inflasi secara keseluruhan dinilai moderat.
Bank of America Securities menyatakan data Consumer Prism mereka menunjukkan kesenjangan pertumbuhan pengeluaran antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah masih sangat besar hingga kuartal keempat. Bank itu menyebut perbedaan mulai terlihat sejak akhir 2024 dan melebar sepanjang tahun berikutnya, dengan pola “K” dalam pengeluaran lebih menonjol pada belanja diskresioner dibandingkan non-diskresioner.
Di tengah sorotan terhadap biaya hidup, Presiden AS Donald Trump mengajukan sejumlah proposal, termasuk rencana membeli obligasi hipotek senilai US$200 miliar serta membatasi suku bunga kartu kredit menjadi 10% selama satu tahun. Pada saat yang sama, kekhawatiran atas independensi The Fed masih berlanjut setelah para kepala bank sentral dari berbagai negara menyatakan dukungan kepada Ketua The Fed Jerome Powell pada Selasa, menyusul ancaman dakwaan pidana dari pemerintahan Trump.

