Harga emas keluaran PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (Antam) pada perdagangan Sabtu, 24 Januari 2026 ditutup menguat Rp 7.000 menjadi Rp 2.887.000 per gram. Pada saat yang sama, harga emas dunia dilaporkan telah menyentuh level US$ 4.900 per troy ounce.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menilai jika harga emas dunia pada Senin, 26 Januari 2026 bergerak naik, maka berpeluang mencapai US$ 5.020 per troy ounce. Dengan skenario tersebut, ia memperkirakan harga emas Antam turut naik hingga Rp 2.992.000 per gram.
Ibrahim juga menyebut peluang penguatan berlanjut hingga akhir pekan berikutnya apabila tren kenaikan bertahan. Dalam pernyataan resmi pada Minggu, 25 Januari 2026, ia mengatakan emas dunia berpotensi naik ke US$ 5.100 per troy ounce sampai hari Sabtu, sementara harga logam mulia diperkirakan dapat mencapai Rp 3.092.000 per gram.
Menurutnya, harga logam mulia berpeluang menembus Rp 3 juta per gram pada akhir Februari apabila harga emas dunia bertahan di atas US$ 5.000 per troy ounce. Namun, ia juga memaparkan skenario sebaliknya: bila tren harga melemah, emas dunia diperkirakan bergerak di kisaran US$ 4.904–4.960 per troy ounce, sedangkan harga logam mulia berpotensi turun ke rentang Rp 2.752.000–2.852.000 per gram.
Ibrahim menjelaskan, fluktuasi harga emas dunia dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain dinamika geopolitik global, isu perang dagang, perkembangan politik Amerika Serikat, serta kondisi permintaan dan penawaran (supply and demand).
Dari sisi geopolitik, ia menyoroti memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Uni Eropa terkait Greenland. Donald Trump disebut sempat mengancam pengenaan tarif tambahan untuk delapan negara Uni Eropa pendukung Greenland, yang kemudian memicu reaksi keras dari Eropa.
Ketegangan di Timur Tengah juga disebut meningkat, antara lain akibat kehadiran armada tempur Amerika Serikat di kawasan tersebut serta ancaman terhadap nuklir Iran, yang dinilai menambah risiko konflik fisik. Selain itu, rencana pemberlakuan tarif tambahan yang mulai berlaku pada Februari turut menjadi faktor yang mendorong volatilitas harga emas.
Sementara dari sisi supply dan demand, Ibrahim menilai kenaikan dapat dipicu oleh aksi sejumlah bank sentral yang menambah cadangan devisa melalui pembelian emas. Ia menyebut catatan terbaru menunjukkan Bank Sentral China (The People’s Bank of China/PBOC) terus menimbun cadangan hingga berada di level yang cukup tinggi. Strategi serupa juga dikatakan dilakukan oleh bank sentral lain seperti Bank Sentral Rusia, Bank Central India, Central Eropa, dan Bank of England.
Menurut Ibrahim, langkah tersebut ditempuh karena kondisi ekonomi dunia diperkirakan tidak stabil di tengah ketegangan geopolitik. Ia menyatakan salah satu cara menghadapi situasi seperti itu adalah melakukan lindung nilai melalui logam mulia.

