Harga batu bara tercatat menguat sejak awal 2026. Pada Kamis (22/1/2026), harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan berikutnya ditutup di level US$ 109,55 per ton, naik 0,18% dibandingkan hari sebelumnya.
Kenaikan harga tersebut dipengaruhi meningkatnya permintaan di tengah cuaca buruk yang terjadi di berbagai belahan dunia. Kondisi ini turut mendorong perhatian pada kesiapan pasokan energi, termasuk pemanfaatan sumber energi cadangan.
Bloomberg News melaporkan pemerintah Amerika Serikat meminta para operator jaringan listrik beralih ke sumber energi cadangan untuk menghadapi badai musim dingin. Tanpa sumber energi cadangan, AS disebut berisiko mengalami pemadaman listrik massal atau blackout.
AS memiliki cadangan listrik sebesar 35 gigawatt yang belum terpakai. Menteri Energi AS Chris Wright menegaskan pemerintah memastikan listrik akan tersedia jika dibutuhkan.
Dalam bauran energi AS, gas alam masih menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 40%, disusul energi baru-terbarukan sebesar 24%. Sementara itu, batu bara menyumbang sekitar 17% dari pembangkitan energi. Namun, dengan diaktifkannya sumber cadangan, batu bara diperkirakan akan memainkan peran yang lebih besar.
Di sisi lain, pelaku industri tambang juga menghadapi tantangan tersendiri. Salah satunya terkait dinamika peraturan pemerintah yang melibatkan tidak hanya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), tetapi juga lembaga lain seperti Kementerian Keuangan hingga Kehutanan.

