Bursa saham Eropa menguat sementara harga minyak dunia melemah pada perdagangan Rabu (25/3), seiring harapan pasar terhadap potensi gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Sentimen ini muncul meski Teheran membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington.
Presiden AS Donald Trump menyatakan pemerintahannya membuat kemajuan dalam upaya mengakhiri perang. Pernyataan tersebut mendorong optimisme bahwa ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia dapat kembali normal.
Laporan pasar menyebut AS mengajukan proposal gencatan senjata selama satu bulan serta mengirim rencana 15 poin kepada Iran untuk dibahas. Namun Iran menolak klaim pembicaraan langsung dan menyebut AS “bernegosiasi dengan dirinya sendiri”, menurut media pemerintah setempat.
Di pasar saham, indeks STOXX Europe 600 naik 1,4% pada hari itu, meski secara bulanan masih turun sekitar 7,3% sepanjang Maret. Indeks FTSE 100 di London juga menguat 1,1%.
Manajer multi-aset senior Amundi, Amelie Derambure, menilai sentimen pasar cenderung positif karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan tercapainya kesepakatan damai atau gencatan senjata. Meski begitu, sejumlah analis mengingatkan bahwa masih terlalu dini untuk berharap konflik segera berakhir. Kepala global pasar ING, Chris Turner, menilai penurunan harga energi secara signifikan kemungkinan belum akan terjadi dalam waktu dekat.
Harga minyak yang sebelumnya melonjak akibat konflik mulai terkoreksi. Minyak mentah Brent turun 5,2% menjadi US$99,01 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melemah 5,1% ke US$87,62 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi di tengah pernyataan Iran yang membuka kemungkinan bagi kapal “non-hostile” untuk melintasi Selat Hormuz, meskipun jalur tersebut secara efektif masih tertutup. Selat Hormuz merupakan jalur distribusi sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
Di pasar obligasi, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Eropa menurun, dipimpin obligasi Italia yang sebelumnya tertekan karena ketergantungan negara itu pada impor energi fosil. Yield obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun tercatat di level 2,97%.
Di pasar valuta asing, euro melemah tipis 0,1% terhadap dolar AS ke US$1,1598, sementara indeks dolar AS menguat ke 99,333. Data terbaru juga menunjukkan sentimen bisnis di Jerman turun tajam pada Maret akibat dampak konflik Iran, yang meningkatkan pesimisme pelaku usaha dan mengancam pemulihan ekonomi terbesar di Eropa tersebut.
Di sisi lain, harga emas naik seiring penurunan harga minyak yang membantu meredakan sebagian kekhawatiran inflasi global.
Konflik yang telah menewaskan ribuan orang memicu guncangan energi global dan meningkatkan risiko inflasi. Negara-negara Teluk Arab menyampaikan kepada PBB bahwa mereka menghadapi ancaman eksistensial dari Iran. CEO BlackRock, Larry Fink, memperingatkan harga minyak berpotensi mencapai US$150 per barel, yang dapat memicu resesi global.
Dengan dinamika geopolitik yang masih berubah, pasar keuangan global diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan terkait gencatan senjata AS-Iran, terutama yang menyangkut pembukaan kembali jalur energi strategis di Selat Hormuz.