BERITA TERKINI
Gerakan Keluarga Maslahah Dorong Literasi Keuangan bagi Pasangan Muda

Gerakan Keluarga Maslahah Dorong Literasi Keuangan bagi Pasangan Muda

Gerakan Keluarga Maslahah menempatkan literasi keuangan sebagai salah satu bekal penting bagi keluarga muda. Gagasan utamanya menekankan bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya bertumpu pada kedekatan emosional, tetapi juga pada kemampuan mengelola pemasukan dan pengeluaran secara sadar dan terencana.

Dalam narasi gerakan ini, kehidupan keluarga digambarkan membutuhkan dua “bahasa” yang saling melengkapi: bahasa cinta dan bahasa angka. Bahasa cinta dipahami sebagai fondasi yang menjaga hubungan tetap hangat, sementara bahasa angka berperan menjaga kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi. Keduanya diposisikan sebagai penopang yang sama-sama diperlukan agar rumah tangga tidak kehilangan arah—baik karena perencanaan yang diabaikan maupun karena hubungan yang terasa kering.

Gerakan Keluarga Maslahah lahir dari kesadaran bahwa keluarga bukan sekadar tempat bernaung, melainkan ruang yang menguji nilai-nilai dalam praktik sehari-hari. Kementerian Agama menamai gerakan ini sebagai upaya membangun keluarga yang bahagia, sejahtera, dan taat agama. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan, mulai dari bimbingan perkawinan, pelatihan pengasuhan (parenting), intervensi stunting, pemberdayaan ekonomi, hingga penguatan karakter.

Literasi finansial keluarga ditempatkan sebagai bagian dari pengelolaan hidup sehari-hari. Dalam kerangka ini, kegiatan seperti menyusun daftar belanja, membayar tagihan, menabung, dan mencatat arus kas dipandang bukan sekadar urusan teknis, melainkan latihan kedisiplinan dan amanah dalam mengelola rezeki.

Gerakan ini juga mengingatkan bahwa uang diposisikan sebagai alat, bukan tujuan. Rezeki dilihat sebagai titipan yang perlu dikelola dengan bijak dan diarahkan pada kemanfaatan. Dalam perspektif tersebut, menata keuangan keluarga tidak berhenti pada upaya mengumpulkan, tetapi juga pada kesadaran bagaimana membelanjakan dan menyalurkannya agar bernilai baik.

Gambaran pelaksanaan literasi keuangan terlihat dalam sebuah ruang pelatihan, ketika pasangan muda duduk berdampingan mengisi tabel pemasukan, pengeluaran, aset, dan rencana. Bagi peserta, lembar kerja itu menjadi sarana meninjau kembali kebiasaan finansial. Ada peserta yang menuliskan alasan bekerja agar kebutuhan rumah tangga lebih terjaga, ada pula yang mengakui tidak mengetahui ke mana gaji bulanan habis. Kejujuran semacam ini dipandang sebagai titik awal memahami kondisi keuangan keluarga.

Fasilitator menyebut proses itu sebagai financial check-up, yang dimaknai sebagai evaluasi menyeluruh atas arah dan kebiasaan pengelolaan rezeki. Di saat yang sama, gerakan ini menyoroti tantangan gaya hidup, seperti dorongan belanja karena diskon, tekanan citra di media sosial, serta kebiasaan berutang demi tampilan. Pesan yang ditekankan adalah pentingnya menemukan ritme keuangan sendiri dan menumbuhkan manfaat dari harta yang dimiliki.

Pada akhirnya, Gerakan Keluarga Maslahah menempatkan kesejahteraan sebagai perpaduan antara perencanaan dan ketenangan batin. Literasi keuangan dipahami sebagai cara membangun keluarga yang lebih siap menghadapi kebutuhan, menjaga kedamaian relasi, serta menempatkan pengelolaan harta dalam nilai-nilai yang diyakini.