BERITA TERKINI
Geopolitik Memanas, Harga Energi Bergejolak, Kripto dan AI Melaju: David Darmawan Soroti Ujian Baru Ekonomi Global

Geopolitik Memanas, Harga Energi Bergejolak, Kripto dan AI Melaju: David Darmawan Soroti Ujian Baru Ekonomi Global

Dinamika geopolitik, gejolak harga energi, serta laju teknologi digital—mulai dari aset kripto hingga kecerdasan buatan (AI)—dinilai tengah membentuk lanskap ekonomi global yang baru. Situasi ini disebut bukan semata krisis, melainkan ujian besar bagi ketahanan ekonomi dunia sekaligus momentum bagi negara-negara untuk berinovasi dan memperkuat solidaritas.

Pandangan tersebut disampaikan David Darmawan, Direktur Utama PT Betawi Global Korporatindo, pendiri Socentix, mantan Direktur Utama PT Redland Asia Capital Tbk (IDX: PLAS), sekaligus Ketua Umum Ormas Betawi Bangkit. Dalam refleksi ekonomi yang juga dipublikasikan melalui platform Kompasiana, ia menilai periode 4–11 Maret 2026 sebagai salah satu pekan yang menentukan dalam dinamika ekonomi global karena tekanan geopolitik meningkat, harga energi melonjak, dan volatilitas pasar menguat.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa kekuatan dunia tidak hanya ditentukan oleh uang dan kekuatan militer, tetapi juga oleh ilmu pengetahuan, inovasi teknologi, serta solidaritas kemanusiaan,” kata David.

David menyoroti memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah, yang menurutnya sempat memicu kekhawatiran global setelah operasi militer yang dikenal sebagai Operation Epic Fury meningkatkan eskalasi ketegangan di kawasan Teluk. Ia menilai kondisi tersebut menimbulkan ancaman terhadap jalur strategis energi dunia di Selat Hormuz, yang selama ini menjadi rute distribusi bagi hampir seperlima pasokan minyak global.

Kekhawatiran pasar, lanjutnya, tercermin pada lonjakan harga minyak mentah Brent yang sempat menembus USD 114 per barel, sehingga memunculkan kembali bayang-bayang krisis energi global.

Teknologi pertahanan dan perubahan strategi konflik

Di tengah ketegangan geopolitik, David juga menyoroti perkembangan teknologi pertahanan modern yang dinilai dapat mengubah logika konflik global. Salah satu inovasi yang disinggungnya adalah sistem laser pertahanan HELIOS, yang disebut mampu menghancurkan drone dengan biaya operasional jauh lebih rendah dibandingkan sistem rudal konvensional.

“Jika sebelumnya drone murah dapat memaksa lawan menggunakan rudal bernilai jutaan dolar, kini teknologi laser memungkinkan pertahanan dilakukan hanya dengan biaya sekitar 50 sen per tembakan. Ini adalah perubahan matematis yang sangat signifikan dalam strategi perang modern,” ujarnya.

Menurut David, fenomena tersebut menjadi pelajaran bahwa inovasi teknologi dapat membalikkan keterbatasan sumber daya menjadi kekuatan strategis.

Isyarat perlambatan ekonomi di Amerika Serikat

Selain faktor geopolitik dan energi, David menilai ekonomi global juga menghadapi tantangan dari perlambatan di Amerika Serikat. Ia merujuk data ketenagakerjaan yang menunjukkan penurunan sekitar 92.000 lapangan kerja pada Februari, dengan tingkat pengangguran meningkat menjadi 4,4 persen. Pada saat yang sama, inflasi disebut masih relatif terkendali di kisaran 2,4 persen secara tahunan.

Kondisi tersebut, menurutnya, menciptakan tantangan baru bagi pembuat kebijakan global: pertumbuhan mulai melambat, sementara inflasi belum sepenuhnya hilang. “Situasi seperti ini menuntut kebijakan ekonomi yang sangat hati-hati karena dunia sedang berada dalam fase transisi ekonomi global,” kata David.

Aset digital dinilai menunjukkan ketahanan

Di tengah ketidakpastian, David menilai pasar aset digital memperlihatkan fenomena berbeda. Ia menyebut harga Bitcoin sempat menyentuh USD 71.000 sebelum stabil di sekitar USD 70.059. Menurutnya, pergerakan itu menunjukkan daya tahan yang tidak sama dengan siklus sebelumnya.

David menilai Bitcoin mulai memperlihatkan karakter sebagai komoditas digital yang langka, dengan pasokan terbatas dan permintaan yang meningkat. “Semakin banyak institusi keuangan global mulai melihat Bitcoin sebagai alternatif penyimpan nilai. Ini menandakan bahwa ekosistem aset digital sedang memasuki fase kematangan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti perkembangan tokenisasi aset dunia nyata, yakni pemindahan berbagai instrumen seperti saham, obligasi, hingga properti ke dalam sistem blockchain.

AI disebut menjadi mesin pertumbuhan baru

Selain kripto dan blockchain, David menilai perkembangan AI menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi global. Ia mengutip laporan salah satu perusahaan teknologi global yang menyebut lonjakan permintaan infrastruktur AI—termasuk pusat data, chip komputasi, dan server berperforma tinggi—meningkat hingga 243 persen dalam satu tahun.

“Dunia sedang memasuki era baru di mana kecerdasan buatan akan menjadi ‘listrik baru’ bagi ekonomi global,” kata David.

Lima langkah yang dinilai perlu ditempuh Indonesia

Dalam perspektif nasional, David menilai perubahan besar di tingkat global semestinya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi. Ia menyampaikan lima langkah strategis yang menurutnya perlu menjadi perhatian: melindungi daya beli masyarakat saat terjadi lonjakan harga energi; mengurangi ketergantungan pada energi impor melalui percepatan energi terbarukan dan inovasi energi domestik; mendorong inovasi teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar tetapi juga produsen; mengembangkan ekosistem blockchain dan aset digital secara sehat dan terregulasi; serta menghidupkan kembali semangat gotong royong ekonomi nasional.

Menurutnya, kekuatan Indonesia tidak hanya bertumpu pada sumber daya alam, melainkan juga pada kekuatan sosial dan persatuan. “Dari Aceh hingga Papua, dari pesantren hingga kampus teknologi, semuanya adalah bagian dari keluarga besar Indonesia. Ketika dunia terpecah oleh konflik, Indonesia memiliki kekuatan langka yaitu persatuan dalam keberagaman,” ungkapnya.

Optimisme menghadapi ketidakpastian

David menilai badai global saat ini bukan akhir perjalanan ekonomi dunia, melainkan ujian yang dapat menjadi titik awal kebangkitan. “Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah jatuh, tetapi bangsa yang selalu mampu bangkit lebih kuat setiap kali diuji,” ujarnya.

Ia mengajak berbagai elemen bangsa menghadapi perubahan dengan keberanian, ilmu pengetahuan, inovasi, serta semangat persaudaraan. Menurutnya, dengan persatuan dan penguatan nilai moral serta spiritual, Indonesia dinilai tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluang menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia.