WASHINGTON — Gencatan senjata dagang antara Amerika Serikat dan China yang dicapai pada akhir Oktober 2025 dilaporkan masih bertahan memasuki awal 2026. Di tengah situasi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan tengah mempersiapkan kunjungan ke Beijing pada April 2026, yang berpotensi menjadi penanda penting bagi arah hubungan ekonomi kedua negara.
Kerangka kesepakatan yang dicapai Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela KTT APEC di Busan, Korea Selatan, Oktober lalu, disebut berhasil menahan eskalasi konflik dagang yang dinilai berisiko besar bagi perekonomian global. Dalam kesepakatan itu, AS sepakat menurunkan tarif atas barang-barang asal China dan menangguhkan pembatasan ekspor baru.
Di sisi lain, China menangguhkan pengendalian ekspor rare earth secara luas serta menyatakan komitmen untuk membeli jutaan ton kedelai dari AS.
Neil Thomas dari Asia Society, dikutip dari Internazionale pada Selasa (13/1/2026), menyebut prioritas jangka pendek Li Chenggang adalah menjaga keberlanjutan gencatan senjata dagang bilateral sekaligus menciptakan suasana positif menjelang rencana kunjungan Trump ke China. Thomas juga menilai tantangan terbesar tim dagang China adalah meyakinkan pemerintahan Trump agar melonggarkan lebih banyak pengendalian ekspor AS tanpa memicu reaksi balik besar di Washington.
Li Chenggang, Wakil Menteri Perdagangan China, dinilai menjadi salah satu sosok kunci dalam menjaga keberlangsungan kesepakatan dan diperkirakan berada di garis depan negosiasi lanjutan sepanjang tahun ini. Meski sempat disebut “tidak waras” oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelum KTT Oktober karena dinilai melanggar etika diplomatik, sejumlah diplomat dan pelaku usaha menggambarkan Li sebagai figur cerdas, pragmatis, dan memiliki wibawa kuat dalam perundingan.

