BERITA TERKINI
Freeport Perkirakan Target RKAB 2025 Tak Tercapai Usai Longsor Tambang Bawah Tanah

Freeport Perkirakan Target RKAB 2025 Tak Tercapai Usai Longsor Tambang Bawah Tanah

Direktur Utama PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas memprediksi kinerja perusahaan pada semester II 2025 tidak akan mencapai target yang tercantum dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2025. Menurutnya, proyeksi tersebut dipengaruhi insiden longsoran yang terjadi di tambang bawah tanah beberapa waktu lalu.

Tony menjelaskan, dalam pengajuan RKAB 2025 perusahaan mencantumkan volume penjualan tembaga hingga akhir tahun sebesar 770 ribu ton. Namun setelah insiden longsoran, proyeksi penjualan tembaga turun menjadi sekitar 537 ribu ton hingga akhir 2025, atau sekitar 70% dari target RKAB. Ia juga menyebutkan bahwa hingga saat ini produksi tembaga telah mencapai sekitar 470 ribu ton.

Pada komoditas emas, Tony menyampaikan target RKAB 2025 menetapkan volume penjualan sebesar 67 ton. Akan tetapi, dampak insiden longsoran membuat penjualan emas diproyeksikan turun hampir separuhnya, menjadi sekitar 33 ton hingga akhir tahun.

Meski produksi tembaga dan emas menurun sepanjang 2025, Tony mengatakan pendapatan penjualan PTFI secara keseluruhan diperkirakan tetap mencapai US$ 8,5 miliar dari target US$ 10,4 miliar. Ia menilai penurunan tersebut sekitar 18% dari target RKAB, dan dipengaruhi oleh kenaikan harga tembaga dan emas dibandingkan asumsi harga dalam RKAB 2025.

Tony menyebut, meski volume produksi tembaga diproyeksikan hanya sekitar 70% dari rencana, pendapatan dari tembaga diperkirakan justru lebih tinggi sekitar 19% dibandingkan rencana. Sementara untuk emas, asumsi harga dalam RKAB 2025 berada di level US$ 1.900 per ounce, sedangkan harga saat ini disebut sudah mencapai US$ 3.400 per ounce. Dengan kondisi tersebut, ia menyatakan pendapatan dari emas diperkirakan meningkat sekitar 80% meski produksinya turun hampir separuh.

Selain itu, Tony menyampaikan bahwa dalam RKAB 2025 kontribusi pendapatan negara dari Freeport diperkirakan sebesar US$ 3,7 miliar atau sekitar Rp 70 triliun. Namun, dengan tingginya harga komoditas serta adanya pembayaran cicilan pajak penghasilan badan berdasarkan kinerja 2024, pemerintah berpotensi menerima hingga US$ 4,1 miliar pada 2025.

Tony menjelaskan pembayaran cicilan pajak tersebut akan terus dilakukan hingga akhir tahun, sehingga nilai penerimaan negara berpotensi melampaui proyeksi dalam RKAB 2025.