Financial technology (fintech) disebut menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, antara lain melalui penciptaan lapangan kerja, penguatan perputaran ekonomi daerah lewat UMKM, serta perluasan inklusi keuangan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat layanan keuangan digital—mulai dari permodalan, investasi mikro, hingga pembayaran digital—menyumbang 80,5 persen angka inklusi keuangan nasional.
Dalam perkembangan tersebut, Amartha melaporkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan untuk pelaku usaha di perdesaan. Perusahaan yang telah beroperasi selama 16 tahun melayani UMKM akar rumput itu menyebut sejak 2010 telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal kerja, termasuk Rp13,2 triliun pada 2025. Dana tersebut diklaim menjangkau lebih dari 3,7 juta UMKM di lebih dari 50.000 desa.
Pernyataan itu disampaikan dalam media gathering bertajuk “Digital untuk Desa, Potensi Fintech Dorong Ekonomi” di Jakarta, Jumat (23/1/2026). Founder & CEO Amartha Andi Taufan Garuda Putra mengatakan, pada 2025 pihaknya memperkuat posisi sebagai penyedia layanan keuangan digital bagi UMKM dan masyarakat perdesaan melalui produk yang dirancang berdasarkan pemahaman kebutuhan pelaku usaha mikro. Ia juga menekankan penguatan tata kelola dan mitigasi risiko sebagai bagian dari strategi pertumbuhan berkelanjutan.
Amartha menyatakan telah memperoleh izin dompet digital dari Bank Indonesia, yang melengkapi layanan dalam aplikasi AmarthaFin. Melalui satu aplikasi, pengguna disebut dapat mengakses investasi mikro, pembayaran digital dan jaringan AmarthaLink, serta mengajukan pinjaman modal kerja.
Untuk menjangkau masyarakat yang belum terlayani akses keuangan digital, Amartha mengembangkan program AmarthaLink. Melalui program ini, pengguna aplikasi AmarthaFin dapat menawarkan layanan pembayaran digital, seperti pembayaran pulsa dan cicilan, kepada komunitas sekitar. Hingga akhir 2025, lebih dari 50.000 pengguna disebut telah bergabung dalam program tersebut.
Komisaris Utama Amartha Rudiantara menilai model bisnis yang jelas, target pasar spesifik berupa perempuan pengusaha mikro, serta manajemen risiko dan tata kelola berstandar perusahaan publik menjadi faktor yang memperkuat fundamental perusahaan. Menurut dia, hal itu turut meningkatkan kepercayaan lebih dari 30 investor nasional maupun internasional, sekaligus berdampak pada penggerakan ekonomi di tingkat akar rumput.
Secara lebih luas, sektor fintech Indonesia masih dinilai menarik bagi investor global. Di tengah dinamika pendanaan global, aliran investasi asing ke fintech tercatat mencapai US$549 juta pada 2024.
Kontribusi fintech juga dikaitkan dengan penciptaan lapangan kerja. Amartha mencatat UMKM mitra binaannya di desa telah membuka lebih dari 110.000 lapangan kerja. Di sisi industri, 65 persen perusahaan fintech disebut memiliki rencana menambah karyawan permanen, yang dinilai mencerminkan kepercayaan diri pelaku industri terhadap prospek ke depan.
Memasuki 2026, fintech diproyeksikan berpeluang memperbesar kontribusi terhadap ekonomi nasional maupun daerah melalui peran UMKM. Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menyampaikan bahwa penyaluran kredit UMKM dari perbankan mengalami kontraksi secara tahunan, sementara kebutuhan permodalan tetap tinggi. Kondisi itu mendorong pelaku usaha mencari pembiayaan alternatif, termasuk pinjaman daring, yang menurutnya masih mencatat pertumbuhan pada 2025 dan berlanjut pada 2026.
Huda juga menilai kehadiran pinjaman daring dapat mendorong inklusi keuangan di desa, salah satunya melalui peningkatan peran agen bank sebagai kanal pembayaran. Ia menyebut permintaan terhadap agen bank di tingkat desa berpotensi meningkat, serta pembiayaan daring membuka kesempatan berusaha yang dapat berdampak pada kenaikan aktivitas industri.
Meski demikian, upaya memaksimalkan potensi fintech dinilai perlu disertai mitigasi risiko. Sejumlah faktor yang disebut perlu diantisipasi antara lain gejolak geopolitik global, potensi fraud, serta masih rendahnya pemahaman masyarakat dalam menggunakan layanan keuangan digital secara bijak.
Andi Taufan menyatakan pada 2026 Amartha tetap fokus menjangkau jutaan UMKM akar rumput melalui produk keuangan terintegrasi, dengan target mendorong pertumbuhan inklusif dan penciptaan lapangan kerja di daerah. Ia menambahkan, dukungan bagi UMKM akan dibahas lebih lanjut dalam Asia Grassroots Forum (AGF) yang dijadwalkan berlangsung pada Mei 2026.
Amartha juga menyebut akan kembali menggelar AGF untuk tahun ketiga, melibatkan investor global, pembuat kebijakan, dan sektor swasta yang mendukung ekonomi akar rumput. AGF 2026 mengusung tema “Enabling Growth, Elevating Financial Health”, dengan fokus diskusi pada strategi kolaborasi untuk mendorong kualitas finansial yang lebih sehat bagi masyarakat akar rumput.

