Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas dan mulai mengguncang perekonomian global. Serangan terhadap infrastruktur energi memicu lonjakan harga minyak, meningkatkan risiko inflasi, serta mengganggu rantai pasok internasional.
Harga minyak Brent sempat naik lebih dari 6 persen hingga mendekati US$110 per barel, sebelum ditutup pada level US$107,38. Gejolak tersebut dipicu serangan Israel terhadap ladang gas utama Iran di kawasan Teluk.
Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) memperingatkan kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi dalam waktu dekat. Di sisi lain, sejumlah negara di kawasan Teluk dilaporkan menghadapi serangan balasan Iran yang menargetkan fasilitas minyak dan gas.
Sejumlah pemerintah merespons cepat untuk meredam dampak kenaikan biaya energi. Amerika Serikat mencabut sementara Undang-Undang Jones untuk menekan biaya energi. Italia mengambil langkah pemangkasan harga bahan bakar serta memberikan insentif pajak bagi pengemudi truk.
Di Asia, beberapa perusahaan besar mulai mengurangi produksi akibat terganggunya pasokan nafta. Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO) menggelar pertemuan darurat untuk membahas keamanan pelayaran di Teluk Persia. Korea Selatan dan Sri Lanka juga disebut mengambil langkah ekstrem guna menjaga stabilitas energi domestik.
Secara keseluruhan, konflik Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi telah menjalar ke berbagai negara melalui kenaikan harga energi, tekanan inflasi, dan gangguan logistik global.