Memanasnya konflik antara Iran dan Israel yang turut menyeret Amerika Serikat dinilai berpotensi mengguncang pasar keuangan global. Sentimen risk-off diperkirakan meningkat, mendorong investor mengurangi aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dalam situasi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) disebut berisiko tertekan, meski sejumlah sektor berbasis komoditas dinilai masih berpeluang mencetak keuntungan.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai eskalasi konflik tersebut telah bergeser dari isu politik menjadi risiko ekonomi global. Menurutnya, pasar merespons cepat dengan pola risk-off, seiring kecenderungan investor global keluar dari aset berisiko dan mencari perlindungan pada aset safe haven.
Sentimen itu tercermin pada pergerakan harga komoditas. Hendra menyebut harga emas menguat lebih dari 1 persen, sementara minyak mentah jenis WTI dan Brent melonjak hampir 3 persen. Kenaikan harga energi dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian pelaku pasar adalah Selat Hormuz. Jalur strategis ini disebut menjadi salah satu rute distribusi minyak tersibuk di dunia, dengan sekitar 30 persen perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut. Jika eskalasi konflik mengganggu arus kapal tanker di Selat Hormuz, harga minyak dinilai berpotensi naik lebih tinggi karena pasar akan menghitung ulang risiko pasokan.
Hendra memperingatkan lonjakan harga energi dapat menjalar ke inflasi global, memicu pelemahan nilai tukar di negara berkembang, dan memengaruhi arah kebijakan suku bunga bank sentral di berbagai negara.
Dalam konteks Indonesia, ia menilai tekanan terhadap IHSG bisa datang dari dua sisi. Pertama, potensi capital outflow karena investor asing mengurangi eksposur di pasar negara berkembang. Kedua, risiko inflasi impor akibat kenaikan harga energi yang dapat meningkatkan biaya produksi emiten domestik.
Jika harga minyak bertahan tinggi, beban operasional perusahaan diperkirakan meningkat sehingga margin laba berpotensi tergerus. Dalam skenario tersebut, IHSG disebut berpeluang melemah dan menguji level support klasik di 8.133. Apabila level itu ditembus, area psikologis 8.000 menjadi support berikutnya, sementara resistance terdekat berada di kisaran 8.300.
Meski demikian, Hendra menilai tidak semua sektor akan terdampak negatif. Sektor berbasis komoditas justru berpotensi menjadi penopang indeks, seiring kenaikan harga emas dan minyak yang membuka peluang bagi saham-saham tambang dan energi.
Ia menyebut sejumlah saham yang patut dicermati. PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) direkomendasikan sebagai trading buy dengan target Rp 3.900. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) ditargetkan Rp 4.500. PT Elnusa Tbk (ELSA) dinilai menarik untuk trading buy dengan target Rp 900, sedangkan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) disebut memiliki target Rp 1.900. PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) direkomendasikan sebagai speculative buy dengan target Rp 1.400. Selain itu, PT Soechi Lines Tbk (SOCI) juga dinilai layak dicermati sebagai trading buy dengan target Rp 750, seiring meningkatnya aktivitas dan tarif pengangkutan energi di tengah volatilitas harga minyak global.
Analisis mengenai dampak konflik global terhadap pasar modal tersebut disampaikan Hendra Wardana dalam keterangannya pada Minggu, 1 Maret 2026.

