Jakarta — Eskalasi konflik di Timur Tengah dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas harga energi global sekaligus mendorong kenaikan biaya logistik perdagangan internasional. Meski demikian, dampak langsung terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas karena eksposur perdagangan Indonesia dengan kawasan tersebut masih kecil.
Risiko yang lebih besar dinilai datang melalui jalur tidak langsung, terutama dari kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar, serta perlambatan aktivitas industri di negara-negara mitra dagang utama yang dapat memengaruhi permintaan terhadap ekspor Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute menunjukkan ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama yang dikirim ke kawasan itu antara lain minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703).
Sementara itu, impor Indonesia dari Timur Tengah tercatat sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi komoditas energi, khususnya minyak. Struktur tersebut memperlihatkan keterkaitan perdagangan langsung Indonesia dengan kawasan konflik relatif terbatas.
Secara keseluruhan, mayoritas ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain, yakni Asia Timur (36,4%), Asia Tenggara (20,8%), Amerika Utara (11,5%), Asia Selatan (9,6%), dan Eropa Barat (5,7%). Karena itu, dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor penentu bagi kinerja ekspor Indonesia.
Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global, terutama terkait stabilitas jalur energi internasional. “Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini dalam keterangan tertulis, Kamis, 19 Maret 2026.
Rini menyoroti peran strategis Timur Tengah dalam sistem energi global. Kawasan tersebut disebut menyumbang lebih dari 30% produksi minyak dunia, sementara sekitar 20% hingga 30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dinilai dapat cepat memengaruhi harga energi internasional serta meningkatkan biaya logistik perdagangan global.
Meski impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya dinilai tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara itu juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia.
Indonesia Eximbank Institute juga mencermati potensi perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia. Peningkatan biaya energi dinilai berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara itu dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia.
Jika ketegangan geopolitik berlangsung cukup lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran rata-rata USD85 hingga USD120 per barel. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar USD60 per barel.
Kenaikan harga energi dan biaya logistik disebut berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama jika permintaan global turut melambat.
Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga dinilai dapat menekan nilai tukar negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik dan memperbesar tekanan biaya bagi sektor berorientasi ekspor.
Meski begitu, sejumlah komoditas ekspor Indonesia dinilai berpeluang mendapat manfaat dari tren kenaikan harga energi global. Batubara, yang berkontribusi sekitar 8% hingga 9% terhadap total ekspor nasional, disebut berpotensi terdorong dari sisi harga.
Harga minyak kelapa sawit (CPO) juga disebut menunjukkan tren yang relatif kuat seiring permintaan global terhadap komoditas agro yang masih solid. Selain itu, sejumlah komoditas berbahan baku lokal, di tengah tren penurunan suku bunga sebelumnya, dinilai turut menekan biaya produksi dan membuka ruang peningkatan daya saing produk ekspor Indonesia.
“Secara keseluruhan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat membantu menopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap perlu diantisipasi, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam,” kata Rini.
Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4% hingga 5%. Pertumbuhan itu berpotensi meningkat menjadi sekitar 5% hingga 6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan tensi geopolitik mereda.