Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memproyeksikan pertumbuhan likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada 2026 berpeluang lebih tinggi dibandingkan 2025. Prospek tersebut sejalan dengan berlanjutnya kebijakan ekspansi likuiditas Bank Indonesia (BI) dan potensi penguatan penyaluran kredit perbankan.
Josua menjelaskan, pada awal tahun pertumbuhan M2 umumnya cenderung mengalami normalisasi setelah meredanya faktor musiman akhir tahun. Namun, ia menilai kondisi likuiditas dasar perekonomian masih tergolong longgar. Hal itu tercermin dari pertumbuhan uang primer yang telah dinetralisir dari dampak insentif likuiditas yang mencapai 16,8% pada Desember 2025.
“Laju M2 biasanya cenderung sedikit melambat dari Desember. Namun, secara keseluruhan fondasi likuiditas masih kuat dan menopang peluang pertumbuhan M2 sepanjang 2026,” ujar Josua, dikutip Minggu (25/1/2026).
Ia juga menilai BI masih melanjutkan kebijakan ekspansi likuiditas rupiah, antara lain melalui penurunan posisi Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga 20 Januari 2026, serta insentif likuiditas makroprudensial yang sudah besar sejak awal Januari 2026. Menurutnya, faktor-faktor tersebut menjadi penahan perlambatan likuiditas di awal tahun.
Josua menyebut peluang pertumbuhan M2 yang lebih tinggi pada 2026 terutama ditentukan oleh dua faktor utama, yakni transmisi penurunan suku bunga terhadap pertumbuhan kredit serta posisi keuangan pemerintah.
Jika transmisi pelonggaran suku bunga semakin efektif dan pertumbuhan kredit bergerak ke kisaran proyeksi BI sebesar 8%–12% pada 2026, ia menilai pertumbuhan M2 wajar bertahan di kisaran tinggi satu digit dan berpotensi sedikit lebih tinggi dibandingkan 2025.
Namun, ia mengingatkan, apabila tekanan eksternal membuat stabilisasi nilai tukar menjadi prioritas dan permintaan kredit tertahan, pertumbuhan M2 cenderung lebih moderat meski likuiditas dasar tetap tersedia.
Adapun pada Desember 2025, M2 tercatat tumbuh 9,6% secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dari November 2025 sebesar 8,3% yoy, dengan nilai mencapai Rp 10.133,1 triliun. Peningkatan tersebut menunjukkan penguatan likuiditas perekonomian, terutama pada akhir tahun.
Dari sisi komponen, pertumbuhan M2 didorong oleh uang transaksi yang tercermin pada pertumbuhan M1 sebesar 14,0%, sementara uang kuasi tumbuh 5,5%.
Dari sisi sumber, penguatan M2 juga ditopang oleh pertumbuhan tagihan bersih sistem moneter kepada Pemerintah Pusat sebesar 13,6% serta penyaluran kredit yang membaik menjadi 9,3% yoy.
Josua menegaskan, lonjakan likuiditas tersebut masih konsisten dengan stabilitas harga. Ia merujuk inflasi Desember 2025 yang tercatat 2,92% dengan inflasi inti 2,38%, sehingga belum menunjukkan tanda perekonomian yang terlalu panas.

