BERITA TERKINI
DPR Peringatkan Risiko Krisis Energi Global di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

DPR Peringatkan Risiko Krisis Energi Global di Tengah Memanasnya Konflik Timur Tengah

Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Gerindra, Azis Subekti, mengingatkan potensi krisis energi global seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Sorotan utama tertuju pada Selat Hormuz, jalur strategis yang kerap disebut sebagai salah satu nadi perekonomian dunia.

Azis menilai konflik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dapat berdampak luas, terutama jika mengganggu lalu lintas energi di Selat Hormuz. Ia menekankan bahwa selat tersebut bukan sekadar jalur pelayaran, melainkan lintasan penting bagi pasokan minyak dunia, dengan sekitar seperlima pasokan global disebut melintas di kawasan itu.

Menurut Azis, gangguan dalam waktu singkat sekalipun dapat memicu efek berantai. Ia menyebut, jika Selat Hormuz tersumbat bahkan hanya beberapa minggu, dampaknya bisa terasa pada kenaikan harga energi, tekanan inflasi terhadap rumah tangga, hingga potensi guncangan stabilitas politik di berbagai negara.

Azis juga memaparkan bahwa dinamika konflik tidak berdiri sendiri karena melibatkan kepentingan sejumlah kekuatan besar dunia. Ia menyebut Donald Trump berupaya menjaga dominasi serta arsitektur perdagangan global Amerika Serikat. Sementara itu, Xi Jinping dinilai mengambil pendekatan pragmatis dengan menempatkan stabilitas energi sebagai prioritas untuk menjaga roda industri tetap berjalan. Menurut Azis, bagi Tiongkok, stabilitas lebih penting daripada siapa yang keluar sebagai pemenang, karena gangguan di Hormuz dapat langsung memukul industri mereka.

Dalam penilaiannya, Azis turut menyinggung posisi Rusia. Ia menyebut Vladimir Putin berpotensi memanfaatkan momentum krisis untuk mengalihkan fokus Amerika Serikat dari Eropa, sekaligus memperoleh keuntungan dari lonjakan harga energi dunia.

Di tingkat kawasan, Azis menilai Arab Saudi berada dalam dilema antara rivalitas dengan Iran dan kebutuhan menjaga stabilitas regional. Sementara itu, ia memperkirakan Iran di bawah Masoud Pezeshkian tidak akan menghadapi konflik secara konvensional, melainkan mengandalkan eskalasi asimetris melalui misil dan jaringan milisi untuk membuat perang menjadi mahal bagi lawan.

Azis mengingatkan bahwa Iran, menurutnya, berbeda dengan Irak maupun Afghanistan. Ia menilai skenario invasi darat dapat berubah menjadi perang panjang yang menguras banyak sumber daya.

Lebih jauh, Azis memprediksi konflik berpotensi meluas tanpa harus berupa invasi darat besar-besaran. Ia memperkirakan situasi dapat berkembang menjadi konflik berkepanjangan yang merembet ke wilayah seperti Lebanon, Suriah, hingga Laut Merah, serta memicu lonjakan harga energi yang berujung pada tekanan sosial di berbagai negara.

Di akhir pernyataannya, Azis menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak krisis energi yang dapat memicu perubahan politik domestik secara tidak terduga. Ia menekankan bahwa penguasaan jalur energi memiliki konsekuensi besar terhadap dinamika kekuasaan global.