BERITA TERKINI
Dosen Vokasi UNAIR Soroti Pentingnya Disiplin Kelola Keuangan bagi Usaha Mikro di Aceh

Dosen Vokasi UNAIR Soroti Pentingnya Disiplin Kelola Keuangan bagi Usaha Mikro di Aceh

Kemampuan mengelola keuangan secara tepat dinilai menjadi salah satu kunci keberlangsungan usaha mikro di Aceh pascabencana. Dalam kegiatan pendampingan kepada masyarakat, Dosen Fakultas Vokasi Universitas Airlangga (UNAIR) Yanuar Nugroho memaparkan materi penguatan literasi keuangan bagi pelaku usaha mikro.

Yanuar menekankan bahwa pengelolaan keuangan merupakan fondasi utama agar usaha dapat bertahan. Menurutnya, tanpa pencatatan dan perencanaan yang baik, pelaku usaha mikro berisiko mengalami kerugian.

“Keuangan harus dikelola secara disiplin agar pelaku usaha mengetahui secara pasti berapa pendapatan, beban, dan laba yang diperoleh,” tuturnya.

Ia menjelaskan, tidak adanya pengelolaan keuangan dapat memunculkan risiko jangka pendek maupun jangka panjang. Pada jangka pendek, risiko yang dapat muncul meliputi kesulitan mengambil keputusan keuangan, krisis likuiditas, ketidakstabilan operasional, hingga tekanan dari pihak kreditur. Sementara dalam jangka panjang, pelaku usaha berpotensi mengalami kegagalan bisnis, kehilangan peluang investasi, ketidakstabilan keuangan berkepanjangan, serta ketidakmampuan menghadapi krisis ekonomi.

“Saya berharap kondisi ini tidak terjadi pada Bapak/Ibu disini. Saya berharap Bapak/Ibu bisa cepat bangkit,” ujarnya.

Dalam pendampingan tersebut, Yanuar juga memberikan edukasi tentang pemisahan pendapatan usaha, termasuk penyusunan laporan laba rugi sesuai Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro, Kecil, dan Menengah (SAK EMKM). Ia turut menjelaskan analisis titik impas (break-even point) untuk membantu pelaku usaha mengetahui jumlah minimal produk yang harus terjual agar usaha tidak mengalami kerugian.

“Dengan mengetahui titik impas, pelaku usaha dapat menentukan strategi harga dan volume produksi yang tepat untuk mencapai keuntungan,” ungkapnya.

Selain itu, ia membagikan sejumlah tips pengelolaan keuangan, di antaranya memisahkan keuangan pribadi dan usaha, menggaji diri sendiri, disiplin mencatat arus keuangan, melakukan perencanaan serta pengelolaan utang, hingga evaluasi usaha dan penetapan target.

“Saya menyadari bahwa pengelolaan entrepreneur itu lebih konteks,” katanya.

Melalui pendampingan ini, pelaku usaha mikro di Aceh didorong tidak hanya berfokus pada peningkatan penjualan, tetapi juga memahami perencanaan keuangan jangka panjang. Pengelolaan keuangan yang baik diharapkan dapat memperkuat daya tahan usaha di tengah ketidakpastian pascabencana.

“Kita harus kuat dan memiliki mimpi yang besar dalam membangun usaha. Bersama kita membangun kembali, lebih kuat dan penuh harapan,” ujarnya.