Kehadiran dompet digital (e-wallet) dan QRIS mengubah cara masyarakat bertransaksi. Di Kota Palu, teknologi pembayaran ini semakin akrab dengan generasi muda karena menawarkan kecepatan dan kemudahan yang dinilai selaras dengan gaya hidup yang dinamis.
Namun, kemudahan transaksi digital juga menyimpan risiko jika tidak diimbangi dengan literasi finansial dan kontrol diri. Hal ini disampaikan Duta Literasi Keuangan OJK Sulawesi Tengah (Sulteng) tahun 2025 saat membahas kaitan antara digitalisasi pembayaran dan pengelolaan keuangan.
Menurut Indah Sricahyani, salah satu Duta Literasi Keuangan OJK Sulteng, sistem pembayaran digital dinilai unggul karena mampu memproses transaksi, baik dalam jumlah besar maupun kecil, secara instan. “Keuntungannya sangat banyak. Dengan digitalisasi, pembayaran menjadi sangat mudah, aman, dan cepat. Ini sangat cocok dengan karakter generasi muda yang ingin serba praktis,” ujarnya.
Kepraktisan tersebut memungkinkan pengguna melakukan transaksi kapan saja tanpa perlu menyiapkan uang tunai, mencari uang kembalian, atau membawa uang dalam jumlah banyak. Di sisi lain, transaksi yang tidak melibatkan uang fisik dapat membuat sebagian pengguna kurang peka terhadap besarnya pengeluaran.
Kondisi itu kerap memicu “kejutan” ketika saldo tiba-tiba menipis atau habis. Indah menekankan pentingnya literasi finansial agar pengguna memahami arus keluar-masuk uang. “Penting sekali untuk memiliki literasi finansial. Jika tidak, kita tidak akan tahu uang kita lari ke mana saja. Banyak kasus di mana seseorang tiba-tiba kaget saat mengecek saldo ternyata sudah kosong,” katanya.

