BERITA TERKINI
DLH Kota Malang Kaji Opsi Petasol hingga Batu Bara Sintetis Sambil Menunggu Kepastian PSEL

DLH Kota Malang Kaji Opsi Petasol hingga Batu Bara Sintetis Sambil Menunggu Kepastian PSEL

Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mulai mengkaji sejumlah alternatif pengolahan sampah di tengah belum pastinya kelanjutan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Kajian ini disiapkan sebagai solusi jangka menengah hingga panjang untuk mengantisipasi persoalan sampah yang terus meningkat setiap tahun.

Pelaksana Harian Kepala DLH Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang, mengatakan opsi selain PSEL kini mulai dipertimbangkan secara serius. Sejumlah skenario yang dikaji antara lain pengolahan sampah menjadi Petasol maupun yang menghasilkan batu bara sintetis.

“Apakah itu Petasol, ataupun yang menghasilkan batu bara sintetis. Tapi dalam hal ini masih dalam Feasibility Study (FS),” ujar Raymond.

Kajian alternatif tersebut dilakukan sambil menunggu kepastian PSEL yang direncanakan berjalan pada 2026. Hingga saat ini, proyek tersebut masih bergantung pada kebijakan pemerintah pusat.

“Masih menunggu kebijakan dari pemerintah pusat. PSEL ini adalah salah satu modal pengolahan sampah yang dilakukan pemerintah pusat di berbagai daerah Indonesia,” kata Raymond.

Selain menunggu kebijakan, tantangan lain PSEL di Kota Malang adalah keterbatasan volume sampah. Raymond menjelaskan, sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Supit Urang saat ini sekitar 500 ton per hari. Sementara itu, PSEL membutuhkan minimal 1.000 ton per hari, bahkan idealnya 1.500 ton per hari agar dapat beroperasi optimal.

“Di Kota Malang dengan kondisi sampah yang masuk ke TPA masih 500 ton masih memerlukan aglomerasi dengan Kabupaten Malang dan Kota Batu,” jelasnya.

Menurut Raymond, skema aglomerasi sebenarnya telah disepakati. Kabupaten Malang dan Kota Batu disebut siap menyuplai sampah ke Kota Malang. Namun, kesiapan infrastruktur masih menjadi tantangan lanjutan.

Distribusi sampah saat ini masih mengandalkan satu jalur utama melalui kawasan Rawisari, Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun. Jika volume sampah meningkat signifikan, akses jalan dan jembatan baru dinilai menjadi kebutuhan mendesak.

“Ini perlu ada jalan baru atau jembatan baru. Karena kalau kondisi saat ini satu harinya itu sekitar 150 sampai 180 rate truk yang lewat. Kalau nanti mencapai 1500 maka bisa dua kali lipatnya bahkan mungkin bisa lebih,” imbuh Raymond.