Kebijakan baru pemerintah Vietnam melalui Keputusan Nomor 349/2025/ND-CP memunculkan harapan untuk menutup kekurangan tenaga medis yang selama ini dialami tim olahraga nasional maupun daerah. Dekret tersebut dinilai dapat memperbaiki penempatan dokter olahraga dan tenaga teknis pendukung pemulihan atlet, terutama pada masa latihan panjang yang memiliki risiko cedera tinggi.
Hingga akhir 2025, para pemimpin olahraga dari tingkat Departemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga sampai pemerintah daerah mengakui bahwa sumber daya manusia berupa dokter olahraga dan teknisi rehabilitasi di tim nasional dan lokal masih lemah dan tidak mencukupi. Di luar tim sepak bola dan beberapa tim yang dikelola pemerintah, banyak tim lain umumnya baru didampingi dokter dan teknisi rehabilitasi ketika mengikuti ajang internasional. Akibatnya, pada periode latihan sebelum kompetisi, atlet kerap tidak mendapatkan dukungan medis rutin.
Dokter olahraga Pham Manh Hung menilai setiap tim nasional setidaknya membutuhkan satu dokter dan satu teknisi yang memantau proses latihan secara cermat, bukan hanya hadir saat kompetisi. Namun, karena belum adanya aturan negara yang spesifik terkait penempatan dokter dan teknisi medis di tim nasional, pelaksanaan di lapangan menghadapi banyak kendala. Dalam praktiknya, tim nasional banyak bergantung pada sumber daya federasi olahraga untuk merekrut tenaga medis. Di sisi lain, mencari tim medis dengan keahlian yang sesuai untuk olahraga berprestasi tinggi juga tidak mudah. Pada beberapa cabang seperti atletik dan tinju, federasi bahkan terpaksa mengirim atlet ke luar untuk pemulihan setelah latihan.
Dalam persiapan turnamen besar, Delegasi Olahraga Vietnam masih mengandalkan koordinasi dengan Rumah Sakit Olahraga Vietnam untuk menambah jumlah dokter dan fisioterapis di pusat pelatihan, atau membawa atlet kembali ke rumah sakit untuk perawatan dan rehabilitasi sesuai tingkat cedera. Sementara itu, pusat pelatihan nasional dilaporkan kekurangan tenaga medis secara serius. Di beberapa pusat, hanya sekitar selusin staf medis harus menangani hampir 1.000 atlet dari berbagai tim nasional, sehingga pemantauan cedera, penilaian beban latihan, dan pengaturan pemulihan setelah sesi latihan sulit dilakukan secara optimal.
Kondisi serupa juga terjadi di daerah. Ketika tim nasional belum memiliki mekanisme yang memastikan ketersediaan tenaga medis memadai, daerah dinilai akan lebih sulit membuat terobosan. Sektor olahraga Hanoi, misalnya, melatih hampir 2.000 atlet namun hanya memiliki sekitar selusin tenaga medis. Dalam situasi seperti ini, penugasan dokter dan teknisi untuk mendampingi tim secara rutin hampir tidak mungkin.
Setelah kekurangan tenaga medis di tim nasional diidentifikasi secara jelas, sektor olahraga mengusulkan agar isu ini dimasukkan ke dalam rancangan dokumen penyesuaian rezim dan kebijakan bagi anggota tim olahraga. Keputusan Pemerintah Nomor 349/2025/ND-CP yang terbit pada 30 Desember 2025 tentang kebijakan bagi anggota tim olahraga yang mengikuti pelatihan dan kompetisi intensif kemudian secara resmi memasukkan tenaga medis tim nasional sebagai pihak yang berhak menerima manfaat.
Dalam ketentuan tersebut, penerima manfaat mencakup tenaga medis (dokter dan teknisi) yang tergabung dalam tim nasional dan tim nasional junior, baik yang menerima gaji dari anggaran negara maupun yang tidak. Tenaga medis yang tidak menerima gaji dari anggaran negara akan dibayar dengan skema setara: dokter menerima gaji setara pelatih tim nasional, dan tenaga teknis menerima gaji setara atlet. Berdasarkan aturan yang disebutkan, upah harian pelatih tim nasional adalah 750.000 VND per orang per hari, sedangkan atlet tim nasional 550.000 VND per orang per hari. Bagi tenaga medis yang sudah menerima gaji dari anggaran negara, gaji tetap, dan selisih jika berada di bawah ketentuan akan dikompensasi.
Mulai 15 Februari 2026, saat Keputusan 349/2025/ND-CP resmi berlaku, sejumlah tim nasional dilaporkan merencanakan pengajuan dokter dan staf medis untuk mengikuti program latihan sepanjang 2026. Ta Dinh Duc, kepala departemen gulat pada Departemen Olahraga Vietnam, menyebut sedang berkoordinasi dengan unit terkait untuk mengamankan staf medis bagi tim gulat nasional yang memulai latihan pada awal Februari. Pada 2026, tim gulat Vietnam dijadwalkan mengikuti Asian Games 2026 sekaligus mempersiapkan Olimpiade 2028. Dengan masuknya staf medis ke dalam tim, ia meyakini performa tim akan meningkat pada masa mendatang.
Di Hanoi, Dao Quoc Thang, Kepala Departemen Manajemen Olahraga pada Departemen Kebudayaan dan Olahraga Hanoi, menyatakan ketentuan baru tersebut memberi dasar bagi daerah untuk mempertimbangkan perekrutan tenaga medis untuk tiap cabang olahraga. Menurutnya, langkah itu tidak bisa dilakukan dalam semalam, namun setidaknya menunjukkan arah kebijakan bagi sektor olahraga Hanoi.
Dekret baru ini meningkatkan harapan akan perubahan positif pada aspek yang selama ini dianggap menjadi penghambat dalam olahraga Vietnam. Namun, efektivitasnya tetap ditentukan oleh bagaimana kebijakan tersebut diterapkan di lapangan.

