BERITA TERKINI
DeFi Beralih dari Jembatan ‘Lock-and-Mint’ ke Native Swap, Stablecoin Dinilai Jadi Infrastruktur bagi Keuangan Tradisional

DeFi Beralih dari Jembatan ‘Lock-and-Mint’ ke Native Swap, Stablecoin Dinilai Jadi Infrastruktur bagi Keuangan Tradisional

Model jembatan lintas blockchain yang sempat menjadi tulang punggung awal keuangan terdesentralisasi (DeFi) kini dinilai menyimpan kerentanan mendasar. Seiring ekosistem blockchain terpecah ke banyak jaringan, industri membangun “jembatan” pihak ketiga untuk memindahkan nilai antar jaringan yang terisolasi. Namun arsitektur yang umum dipakai—dikenal sebagai “lock-and-mint”—menciptakan risiko keamanan yang besar.

Menurut Przemek Kowalczyk, co-founder dan CEO Ramp Network, masalah utama bukan pada tujuan jembatan tersebut, melainkan pada risiko bawaan desainnya. Dalam mekanisme lock-and-mint, pengguna mengunci token asli di kontrak pintar pada rantai sumber, lalu jembatan mencetak versi “wrapped” atau sintetis dari aset itu di rantai tujuan. Struktur ini, kata Kowalczyk, menjadikan brankas penyimpanan aset asli sebagai target bernilai tinggi bagi peretas.

Ia menilai keamanan jembatan tradisional kerap bergantung pada sejumlah kecil validator atau lapisan koordinasi yang sempit. Kondisi tersebut memperluas permukaan serangan: ketika brankas pusat diretas, token wrapped di jaringan lain dapat kehilangan nilai. Kerentanan semacam ini disebut telah memicu kerugian hingga miliaran dolar akibat serangan besar dalam beberapa tahun terakhir.

Di tengah risiko tersebut, industri DeFi disebut mulai bergeser dari jembatan tradisional menuju pendekatan pertukaran asli (native swap) sebagai standar baru interoperabilitas lintas rantai. Berbeda dari jembatan yang mengandalkan representasi sintetis, native swap memungkinkan pengguna menukar aset secara langsung antar jaringan. Likuiditas diambil dari berbagai jaringan, sementara transaksi diselesaikan langsung ke aset tujuan.

“Hal itu menghilangkan beberapa asumsi kepercayaan yang membuat banyak jembatan awal menjadi rapuh,” kata Kowalczyk. Dengan penyelesaian langsung ke aset asli di jaringan tujuan, kebutuhan akan token wrapped—beserta risiko terpusat yang menyertainya—dapat dikurangi.

Perubahan tidak hanya terjadi pada infrastruktur, tetapi juga pada cara pengguna berinteraksi dengan DeFi. Kowalczyk menyebut kemunculan agen kecerdasan buatan (AI) mendorong DeFi bergerak dari proses manual menuju otomatisasi. Ia menilai kerangka kerja agen seperti Openclaw mulai beralih dari sekadar eksperimen menjadi integrasi yang lebih luas, menandai pergeseran dari teori ke infrastruktur.

Menurutnya, agen AI dapat memantau likuiditas, menyeimbangkan kembali posisi, menyesuaikan jaminan, hingga mengarahkan swap tanpa campur tangan manusia. Bagi pengguna berpengalaman, otomatisasi ini dipandang meningkatkan efisiensi. Sementara bagi pengguna baru, agen dapat menurunkan hambatan masuk dengan menangani aspek teknis di latar belakang.

Perkembangan DeFi dan otomatisasi ini dinilai beririsan dengan keuangan tradisional (TradFi), terutama lewat adopsi stablecoin yang semakin cepat. Kowalczyk menilai stablecoin berpotensi mengubah lanskap bagi perusahaan yang selama ini memperoleh pendapatan dari pembayaran lintas batas yang dinilai lambat dan mahal. Ia berpendapat institusi yang mampu bertahan adalah mereka yang berhenti melihat stablecoin sebagai pesaing dan mulai memandangnya sebagai infrastruktur.

Ia menekankan stablecoin memungkinkan penyelesaian lebih cepat dan dapat beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, sehingga mengurangi ketergantungan pada penundaan dalam sistem perbankan koresponden. “Begitu seseorang mengalami nilai yang bergerak kapan saja dan diselesaikan dalam hitungan menit, alternatif yang lebih lambat terasa tidak berfungsi,” ujar Kowalczyk.

Meski stablecoin yang dipatok ke dolar AS masih mendominasi pasar, Kowalczyk melihat peta persaingan mulai beragam. Ia menilai pendekatan persaingan langsung dengan dolar AS tidak selalu relevan bagi mata uang lain. Dalam pandangannya, stablecoin denominasi euro justru berpotensi kuat dari sisi kegunaan regional, terutama bagi bisnis Eropa yang ingin mengurangi paparan valuta asing serta menyederhanakan kebutuhan seperti penggajian, penagihan, dan manajemen kas.

“Stablecoin USD kemungkinan akan tetap dominan dalam perdagangan global,” kata Kowalczyk. “Stablecoin euro dapat tumbuh secara signifikan dalam aliran ekonomi Eropa dan di pasar yang banyak berdagang dengan Eropa. Itu adalah ruang pasar yang besar.”

Ia juga menggambarkan arah perkembangan berikutnya sebagai “abstraksi rantai”, yakni ketika perutean, pencarian likuiditas, dan komunikasi antar jaringan berlangsung sepenuhnya di belakang layar. Dalam skenario ini, pengguna cukup menyebutkan hasil yang diinginkan—misalnya menerima stablecoin di jaringan tertentu—sementara infrastruktur menentukan jalur dan eksekusinya.

Namun, Kowalczyk mengingatkan bahwa efisiensi dan otomatisasi juga bisa menghadirkan kerentanan sistemik baru. Risiko yang ia soroti adalah amplifikasi: jika banyak agen AI berjalan dengan model serupa, volatilitas dapat meningkat cepat. Karena itu, ia menilai penting merancang batasan seperti izin, batas kecepatan, dan logika eksekusi yang transparan.

“Teknologi itu sendiri netral,” tegasnya. “Yang penting adalah seberapa hati-hati implementasinya.” Menurut Kowalczyk, bila diterapkan dengan tepat, kombinasi arsitektur native swap, otomatisasi berbasis AI, dan integrasi stablecoin multi-mata uang berpotensi memperkuat sistem keuangan global agar lebih dapat diprediksi, lebih terkendali bagi pengguna, dan lebih mudah diakses.