BERITA TERKINI
Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas, Investor Diminta Cermati Saham Berarus Kas Kuat

Danantara Siap Jadi Penyedia Likuiditas, Investor Diminta Cermati Saham Berarus Kas Kuat

Dinamika pasar saham Indonesia saat ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari penyesuaian regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kebijakan papan pemantauan khusus Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga sentimen rebalancing indeks MSCI. Situasi tersebut turut menghadirkan tantangan terkait likuiditas di pasar.

Di tengah kondisi itu, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) menegaskan peran strategisnya di pasar modal. Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir, menyatakan Danantara akan berperan sebagai liquidity provider untuk menjaga stabilitas serta memperdalam pasar modal Indonesia.

Namun, manajemen Danantara tidak mengungkapkan secara spesifik emiten yang akan menjadi target investasi. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk mendorong partisipasi pasar yang lebih luas (crowd in), sehingga investor diharapkan melakukan analisis mandiri berdasarkan kerangka investasi yang baku, bukan semata mengikuti arus dana institusi.

Dalam konteks tersebut, investor perlu memahami parameter fundamental yang lazim digunakan pengelola dana besar. Tiga kriteria utama yang disebut menjadi acuan adalah likuiditas yang baik, fundamental yang baik, serta arus kas yang kuat.

Indikator seperti free cash flow (FCF) dan price to earnings ratio (PER) dipandang penting. Berbeda dengan laba bersih yang dapat dipengaruhi metode akuntansi, arus kas dinilai mencerminkan kemampuan riil perusahaan menghasilkan uang tunai untuk operasional, pembagian dividen, serta ekspansi bisnis.

Berdasarkan data laporan keuangan emiten di Bursa Efek Indonesia, sejumlah saham dipetakan ke dalam kelompok sektor yang dinilai memiliki kombinasi likuiditas, fundamental, dan arus kas yang kuat.

Sektor perbankan dan keuangan

Sektor perbankan disebut menjadi penopang likuiditas terbesar di pasar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) tercatat memimpin dengan FCF sebesar Rp 124,2 triliun dan posisi kas Rp 24,1 triliun. Di belakangnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan FCF Rp 87,4 triliun.

Selain bank-bank besar (termasuk BBCA dan BBNI), terdapat pula bank lapis kedua dan lembaga keuangan yang disebut memiliki arus kas positif dan valuasi wajar. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) disorot dengan pertumbuhan di segmen syariah dan FCF Rp 12,3 triliun.

Sektor energi dan pertambangan

Di sektor ini, sejumlah emiten digambarkan sebagai penghasil kas besar. PT United Tractors Tbk (UNTR) memiliki posisi kas Rp 28,3 triliun dan FCF Rp 15,4 triliun.

Pada sub-sektor pertambangan batubara dan mineral, PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) beserta anak usaha (AADI/ADMR), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) disebut konsisten mencetak surplus arus kas operasional.

Untuk eksposur hilirisasi nikel dan emas, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) disebut menunjukkan efisiensi belanja modal yang baik.

Sektor barang konsumsi dan kesehatan

Saham di sektor ini dinilai menawarkan stabilitas. PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) tercatat memiliki cadangan kas dan setara kas Rp 42,9 triliun, sehingga disebut sebagai salah satu emiten paling likuid di luar perbankan. Anak usahanya, ICBP, juga disebut memiliki arus kas yang solid.

Di sektor kesehatan dan farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) serta PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) masuk dalam daftar karena neraca keuangan yang dinilai sehat dan minim utang.

Sektor infrastruktur, telekomunikasi, dan aneka industri

PT Astra International Tbk (ASII) disebut sebagai emiten dengan posisi kas terbesar di bursa, mencapai Rp 54,6 triliun. Sementara di sektor ritel dan properti, beberapa emiten disebut menunjukkan pemulihan arus kas pasca-pandemi.

Di telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tetap disebut sebagai pilihan utama dengan FCF Rp 38,4 triliun. Selain itu, emiten menara PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) serta operator PT Indosat Tbk (ISAT) disebut menunjukkan perbaikan arus kas operasional yang signifikan.

Dengan tidak adanya daftar target investasi yang diumumkan Danantara, pemetaan berbasis arus kas, likuiditas, dan fundamental tersebut menjadi salah satu rujukan bagi investor untuk menyusun analisis mandiri sesuai kerangka investasi masing-masing.