BERITA TERKINI
Danantara Nilai Demutualisasi BEI Dibutuhkan untuk Perkuat Kredibilitas dan Daya Saing Pasar Modal

Danantara Nilai Demutualisasi BEI Dibutuhkan untuk Perkuat Kredibilitas dan Daya Saing Pasar Modal

Jakarta — Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menilai demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) diperlukan untuk memperkuat kredibilitas, permodalan, dan daya saing pasar modal nasional di tengah meningkatnya volatilitas global.

Menurut Pandu, demutualisasi adalah perubahan model bursa dari kepemilikan anggota dan bersifat nirlaba menjadi perusahaan yang dimiliki pemegang saham serta berorientasi profit. Ia mengatakan model tersebut dapat memperkuat tata kelola dan akuntabilitas.

“Demutualisasi, menurut pandangan kami, adalah model bursa modern untuk membangun kredibilitas, permodalan, dan daya saing,” kata Pandu dalam paparannya pada Indonesia Economic Summit 2026 di Jakarta, Rabu.

Pandu menjelaskan, perubahan model ini akan memperjelas garis tanggung jawab dan hak pengambilan keputusan, memperkuat pelaporan dan keterbukaan, serta meningkatkan integritas pasar.

Ia menambahkan, demutualisasi juga membuka ruang penghimpunan dana melalui private placement atau penempatan terbatas maupun mekanisme lainnya. Selain itu, proses pengambilan keputusan untuk aksi korporasi dinilai dapat lebih cepat, sekaligus berpotensi menarik investor institusi, asing, dan strategis.

“Demutualisasi menghadirkan investor institusi, investor asing, dan investor strategis, serta mengurangi dominasi oleh satu kelompok pemangku kepentingan tertentu,” ujar dia.

Pandu menilai penguatan tata kelola bursa menjadi penting karena pasar modal Indonesia saat ini didominasi investor ritel dengan jumlah lebih dari 21 juta orang, sementara peran investor institusi masih perlu diperkuat.

Selain itu, ia menyebut rasio kapitalisasi pasar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia masih sekitar 0,6 kali, lebih rendah dibandingkan sejumlah bursa global yang rata-rata berada di kisaran dua hingga tiga kali PDB.

Lebih lanjut, Pandu mengatakan praktik demutualisasi bukan hal baru dan telah diterapkan di berbagai bursa dunia, seperti Bursa Efek Australia pada 1998 dan Bursa Efek Nasional India sejak 1992.

Pandu menambahkan Danantara mengapresiasi dukungan regulator dan parlemen terhadap inisiatif tersebut. Ia berharap proses regulasi dapat berjalan dan mendorong penguatan pasar pada paruh kedua tahun ini.

“Kami mengapresiasi regulator, OJK, serta parlemen yang mendukung inisiatif ini, dan berharap dapat segera terealisasi,” tuturnya.