Kondisi cuaca dan iklim di Indonesia yang kian sulit diprediksi dinilai berpotensi mengganggu kinerja perusahaan keuangan digital, khususnya fintech lending atau pinjaman daring (pindar). Perubahan cuaca disebut dapat memicu bencana alam yang berdampak langsung pada kemampuan bayar peminjam.
Director of Digital Economy Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Nailul Huda, menilai dampak tersebut terlihat dari kenaikan tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) pindar dari Oktober ke November 2025. Ia menduga lonjakan itu berkaitan dengan banjir yang melanda wilayah utara Sumatra, termasuk Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada akhir 2025.
“Kalau kita lihat, TWP90 dari 2 persen ke 4 persen, itu salah satunya disebabkan oleh bencana alam. Itu jadi salah satu faktor. Meskipun kita belum menghitung seberapa besar signifikansinya,” ujar Nailul pada Jumat, 23 Januari 2026.
Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, TWP90 pindar naik dari 2,76% pada Oktober 2025 menjadi 4,33% per November 2025. Pada periode tersebut, OJK mencatat sebanyak 24 perusahaan fintech lending memiliki TWP90 di atas 5%.
Huda menambahkan, ketika kondisi cuaca memburuk, risiko kredit cenderung meningkat. “Jadi, kalau kita berbicara tentang NPL atau TWP90, itu pasti akan meningkat ketika cuaca sedang tidak bagus,” katanya.
Dampak cuaca ekstrem juga diakui PT Amartha Mikro Fintek (Amartha), fintech lending yang berfokus pada pembiayaan sektor produktif, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). CEO & Founder Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, menyebut kondisi cuaca saat ini sulit diprediksi sehingga perusahaan memperkuat pendampingan terhadap borrower sebagai bagian dari mitigasi risiko.
“Yang Amartha lakukan di sini, kami terus mendampingi mereka. Istilahnya early warning signal. Kami mendampingi mereka, agar kami tahu, kalau misalnya kondisinya lebih nggak bagus, next step-nya dari Amartha seperti apa,” kata Andi.
Terkait banjir di wilayah utara Sumatra, Andi menyatakan Amartha turut berkontribusi dalam upaya pemulihan. Melalui Amartha.org atau Yayasan Amartha, perusahaan menyalurkan bantuan dan mendukung proses pemulihan pascabencana.
“Kami punya ‘impact arm’ yang membantu donasi dan recovery pasca bencana, melalui Amartha.org, atau Yayasan Amartha. Fokus kami sekarang sedang lagi memetakan, bagaimana kami membantu untuk reconstruct kondisi masyarakat setempat,” paparnya.
Selain itu, Andi menyebut Amartha berkolaborasi dengan perbankan untuk menyalurkan permodalan kepada peminjam terdampak. Perusahaan juga melakukan pemetaan tingkat dampak terhadap borrower, mulai dari kategori dampak kecil, menengah, hingga berat, sebagai dasar langkah lanjutan termasuk restrukturisasi pinjaman.
“Kalau ada bencana kayak gini, saya pastikan, Amartha sebagai platform, kita berkolaborasi dengan perbankan, untuk menyalurkan permodalan. Yang kami sudah lakukan sekarang itu, kami sudah mapping, mana yang dampaknya kecil, mana yang medium, mana yang berat,” terangnya.

