BERITA TERKINI
China Dorong Keseimbangan Impor-Ekspor Jelang Rencana Lima Tahun 2026-2030

China Dorong Keseimbangan Impor-Ekspor Jelang Rencana Lima Tahun 2026-2030

Beijing—China memajukan strategi untuk menyeimbangkan pertumbuhan impor dan ekspor, sejalan dengan Rencana Lima Tahun ke-15 periode 2026-2030. Langkah ini disebut ditujukan untuk mendorong pembangunan berkualitas tinggi di dalam negeri sekaligus berkontribusi pada stabilitas ekonomi global.

Pada 2024, total nilai impor dan ekspor barang China melampaui 43 triliun yuan atau sekitar 6,07 triliun dolar AS, menjadi rekor baru. Nilai ekspor mencapai 25,45 triliun yuan, menandai pertumbuhan selama delapan tahun berturut-turut, sedangkan impor tercatat 18,39 triliun yuan. Surplus perdagangan yang melampaui 7 triliun yuan pun menjadi perhatian luas.

Seorang pejabat Administrasi Umum Kepabeanan (General Administration of Customs/GAC) China menyatakan negaranya tidak mengejar surplus perdagangan. Menurutnya, besaran ekspor, impor, dan neraca perdagangan terbentuk dari kombinasi berbagai faktor, termasuk penawaran dan permintaan internasional, pembagian kerja industri, serta persaingan pasar.

Associate researcher Pusat Riset Pembangunan Dewan Negara China, Chen Hongna, menilai ketidakseimbangan perdagangan merupakan tantangan global. Ia menyebut kondisi itu tidak hanya dipengaruhi hukum ekonomi objektif, tetapi juga keunggulan komparatif serta faktor ekonomi makro tiap negara.

Chen menjelaskan, dari sisi kebutuhan pembangunan internal, penekanan pada keseimbangan impor-ekspor ditujukan untuk mendorong peningkatan konsumsi domestik dan transformasi industri melalui impor. Upaya tersebut juga dimaksudkan untuk berbagi peluang pembangunan dengan mitra dagang, mengurangi ketidakseimbangan perdagangan, serta meningkatkan kemampuan respons proaktif.

Untuk mencapai tujuan tersebut, China menjalankan sejumlah langkah, antara lain memperkuat diversifikasi pasar, mengintegrasikan perdagangan domestik dan luar negeri, memperluas perdagangan barang setengah jadi dan perdagangan hijau, serta mengembangkan perdagangan jasa. China juga berupaya menyempurnakan sistem pengelolaan daftar negatif untuk perdagangan jasa lintas perbatasan dan memperluas keterbukaan sektor digital secara teratur.

Langkah-langkah itu ditujukan untuk menstabilkan ekspor dengan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan regulasi, sekaligus memperluas impor barang dan jasa utama yang dinilai berkualitas tinggi.

Dalam memperluas impor, China membangun jaringan platform nasional, regional, dan daring. Salah satu yang menonjol adalah Pameran Impor Internasional China (China International Import Expo/CIIE). Sebagai pameran impor tingkat nasional pertama di dunia, CIIE mencatat target transaksi kumulatif melampaui 583 miliar dolar AS selama delapan edisi. Pada CIIE kedelapan yang berakhir awal bulan ini, total nilai transaksi mencapai rekor 83,49 miliar dolar AS, naik 4,4 persen dibanding edisi sebelumnya.

Menteri Perdagangan China Wang Wentao pada Oktober lalu menyampaikan bahwa keterbukaan berstandar tinggi menjadi upaya besar yang dinilai menguntungkan China dan dunia. Pada 2024, China tercatat menjadi mitra dagang utama bagi lebih dari 150 negara dan kawasan.

Dalam periode Rencana Lima Tahun ke-14 (2021-2025), nilai impor barang dan jasa diperkirakan melampaui 15 triliun dolar AS. Wang juga menyebut investasi China di luar negeri telah menyumbang lebih dari 300 miliar dolar AS dalam bentuk pendapatan pajak bagi negara penerima, menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar, serta mendorong industrialisasi dan modernisasi lokal.

Sejumlah pakar industri menilai, seiring China melanjutkan proses keterbukaan berstandar tinggi, stabilisasi ekspor perlu berjalan beriringan dengan perluasan impor. Laporan KPMG China menyebut bahwa dalam lima tahun ke depan, ketika permintaan eksternal tidak lagi menjadi satu-satunya pilar pertumbuhan, China diproyeksikan menyinergikan keterbukaan yang lebih luas dengan pasar domestik yang kuat guna mencapai pertumbuhan yang lebih seimbang, baik pada sisi ekspor maupun impor. Laporan itu juga menyoroti besarnya permintaan pasar China dan dukungan rantai industri yang efisien sebagai faktor yang dinilai tetap membuka peluang lebih luas bagi perusahaan multinasional.