BERITA TERKINI
Chico Mendes dan Harga Perlawanan: Pembunuhan Aktivis Penyadap Karet yang Membela Hutan Amazon

Chico Mendes dan Harga Perlawanan: Pembunuhan Aktivis Penyadap Karet yang Membela Hutan Amazon

Letusan senapan di kota kecil Xapuri, negara bagian Acre, Brasil, pada 22 Desember 1988, mengakhiri hidup Francisco Alves Mendes Filho. Tembakan dari senapan laras panjang kaliber 20 menghantam tubuhnya dengan 60 butir peluru timah. Ia ambruk di ambang pintu rumahnya. Malam itu, Hutan Amazon kehilangan salah satu pembelanya yang paling dikenal: Chico Mendes.

Mendes adalah penyadap karet sekaligus pengorganisir serikat pekerja hutan. Ia lahir pada 1944 di Xapuri dari keluarga seringueiro, komunitas pekerja hutan yang menggantungkan hidup pada penyadapan getah pohon karet. Cara hidup ini membuat pohon-pohon tetap berdiri karena dirawat agar terus menghasilkan.

Pada 1970-an, ketika rezim militer Brasil membuka Amazon untuk pembangunan jalan, konsesi tanah, dan peternakan sapi skala besar, laju deforestasi meningkat. Konflik agraria meluas, dan kekerasan menjadi bagian dari keseharian di wilayah perbatasan rimba. Dalam situasi itu, Mendes berdiri bersama para penyadap getah dan masyarakat lokal untuk mempertahankan hutan.

Di lapangan, Mendes dikenal lewat strategi perlawanan tanpa kekerasan yang disebut empate, atau blokade manusia. Warga—termasuk anak-anak dan orang tua—mendatangi lokasi pembalakan dan berdiri di jalur alat tebang. Mereka berbicara dengan operator gergaji mesin, bernegosiasi, dan mendesak agar penebangan dihentikan.

Perlawanan ini memantik kebencian. Pelatuk senjata yang menewaskan Mendes ditarik Darcy Alves, anak seorang peternak sapi. Kemarahan keluarga tersebut dipicu oleh peran Mendes dalam memimpin empate yang menggagalkan pembukaan satu petak hutan yang hendak mereka kuasai untuk dijadikan padang rumput pakan ternak.

Meski Mendes telah tiada, gagasannya terus hidup. Ia memperjuangkan ide yang pada masanya dianggap nyaris mustahil: melindungi hutan tanpa mengusir orang-orang yang hidup di dalamnya. Setelah kematiannya, pemerintah Brasil mendirikan Chico Mendes Extractive Reserve (CMER), yang kemudian dikenal sebagai simbol kebijakan konservasi berbasis komunitas.

Konsep extractive reserve atau cagar ekstraktif memberikan hak kelola kepada masyarakat lokal atau adat atas hasil hutan—seperti karet, kacang Brasil, dan produk lainnya—dengan cara yang menjaga hutan tetap utuh. Model ini, bersama cagar pembangunan berkelanjutan dan bentuk kawasan lindung lain di Amazon, kemudian meluas hingga mencakup sekitar 13 persen wilayah Amazon.

Sejumlah temuan berbasis citra satelit juga menunjukkan perbedaan antara kondisi hutan di dalam dan di luar CMER. Studi berjudul Roads, deforestation and the mitigating effect of the Chico Mendes extractive reserve in the southwestern Amazon mencatat bahwa pada 2000 tutupan hutan mencapai 97% di dalam cagar dan 78% di luar. Hingga 2018, deforestasi meningkat 44% di luar kawasan, tetapi hanya 14% di dalam. Data ini menunjukkan model cagar ekstraktif berperan menekan laju deforestasi.

Kisah Chico Mendes menandai persimpangan antara perebutan lahan, kekerasan, dan upaya mempertahankan hutan. Pembunuhannya menjadi pengingat bahwa bagi sebagian orang, mempertahankan Amazon berarti membayar harga yang sangat mahal—namun gagasan yang ia tinggalkan terus memengaruhi cara perlindungan hutan dirancang dan dijalankan.