BERITA TERKINI
Bursa Asia Bergerak Fluktuatif Usai Wall Street dan Eropa Terkoreksi, Kekhawatiran Disrupsi AI Menguat

Bursa Asia Bergerak Fluktuatif Usai Wall Street dan Eropa Terkoreksi, Kekhawatiran Disrupsi AI Menguat

Bursa saham Asia bergerak tidak stabil pada Rabu, mengikuti pelemahan tajam yang terjadi di pasar saham Amerika Serikat dan Eropa. Sentimen investor ikut tertekan oleh meningkatnya kekhawatiran bahwa perkembangan kecerdasan buatan (AI) dapat menggeser model bisnis perangkat lunak tradisional.

Tekanan jual terutama menyasar saham perusahaan analitik data, jasa profesional, dan software, setelah Anthropic meluncurkan plug-in baru untuk agen Claude Cowork. Peluncuran tersebut memicu kekhawatiran pasar terkait potensi disrupsi industri berbasis AI.

Di China, indeks CSI Software Services turun 3%, sementara indeks teknologi Hong Kong melemah 1,8%. Di Jepang, saham Dentsu anjlok lebih dari 6% dan Nomura Research Institute merosot hampir 8%. Indeks Nikkei turun 0,8%.

Meski melemah, tekanan di Asia dinilai lebih terbatas dibandingkan pasar Barat karena kawasan ini masih ditopang sektor manufaktur perangkat keras. Ben Bennett, head of investment strategy for Asia di L&G Asset Management, mengatakan perdagangan bertema AI memunculkan pihak yang diuntungkan dan dirugikan. Menurutnya, sektor teknologi bukan pemenang universal karena tetap memiliki area yang lemah.

Di tengah pelemahan tersebut, sejumlah pasar justru menguat. Indeks teknologi Korea Selatan naik 1,4% dan pasar saham Taiwan bertambah 0,2%.

Dari pasar energi, harga minyak menguat seiring meningkatnya ketegangan geopolitik. Militer AS menembak jatuh drone Iran yang mendekati kapal induk di Laut Arab, sementara kapal bersenjata Iran dilaporkan mendekati tanker berbendera AS di Selat Hormuz, jalur penting ekspor minyak Timur Tengah.

Minyak Brent naik 0,77% menjadi US$67,85 per barel dan minyak mentah AS naik 0,97% ke US$63,82 per barel. Sementara itu, logam mulia pulih setelah sempat tertekan. Emas spot melonjak 2,8% ke US$5.076,29 per ons dan perak naik lebih dari 3%.

Volatilitas pasar juga dipicu keputusan Presiden AS Donald Trump yang menunjuk Kevin Warsh sebagai kandidat Ketua Federal Reserve. Warsh diperkirakan akan mengecilkan neraca The Fed, kebijakan yang berpotensi menekan aset non-imbal hasil seperti emas.

Joshua Chim, general manager FSMone, memperkirakan volatilitas tinggi masih akan berlanjut dalam waktu dekat sebelum pasar kembali stabil setelah menemukan pijakannya.

Di pasar valuta asing, dolar menghentikan reli, sementara yen melemah ke kisaran 156 per dolar menjelang pemilu Jepang. Bitcoin bertahan di dekat level terendah sejak November 2024, hanya naik tipis 0,15%.

Imbal hasil obligasi AS cenderung stabil, meski tenor jangka panjang sedikit naik seiring spekulasi kebijakan moneter yang lebih ketat di bawah kepemimpinan baru The Fed.