PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) melalui produk BSI Griya sebesar Rp 69,98 triliun sepanjang 2025. Capaian tersebut menempatkan BSI dalam jajaran enam besar bank penyalur pembiayaan perumahan secara nasional, dengan kualitas pembiayaan yang disebut tetap sehat.
Direktur Retail Banking BSI Kemas Erwan Husainy mengatakan segmen konsumer, khususnya pembiayaan griya, menjadi salah satu fokus utama perseroan karena berkaitan dengan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan bisnis konsumer. BSI mencatat tren booking rata-rata Rp 1 triliun per bulan, yang didominasi pembelian rumah pertama pada kisaran harga Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar, take over, renovasi, serta kebutuhan lainnya.
Menurut Kemas, portofolio BSI Griya juga banyak ditopang nasabah muda. Sekitar 60% portofolio berasal dari Gen Y dan Gen Z, atau sekitar 200 ribu anak muda, sebagaimana disampaikan melalui keterangan resmi pada Rabu (21/1/2026).
Kemas menilai capaian tersebut menunjukkan anak muda mulai memilih pembiayaan rumah berbasis syariah yang dinilai kompetitif. Ia juga menyebut kebutuhan rumah tapak masih memiliki ruang pertumbuhan, terutama untuk pembelian rumah pertama.
BSI menyatakan pertumbuhan pembiayaan griya turut didorong sejumlah manfaat yang ditawarkan pada produk BSI Griya, antara lain margin angsuran yang kompetitif dan disebut pasti hingga lunas, proses yang mudah dan cepat, pilihan skema syariah yang transparan, bebas denda, serta bebas biaya provisi dan appraisal hingga Rp 5 miliar. Selain itu, biaya administrasi disebut mulai Rp 0, dengan fleksibilitas tenor pembiayaan hingga 30 tahun.
Di sisi program, BSI juga menghadirkan penawaran dalam rangka Milad BSI ke-5 melalui program Special Price BSI Griya Milad, dengan margin mulai setara 1,5% eff fix 1 tahun, hadiah Rek BSI E-mas 0,5 gram, serta cashback asuransi Rp 500 ribu untuk pengajuan BSI Griya sesuai syarat dan ketentuan.
BSI turut mengapresiasi kebijakan pemerintah terkait perpanjangan insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) atas penyerahan rumah tapak dan satuan rumah susun. Kebijakan tersebut dinilai menjadi sinyal positif atas keberpihakan pemerintah terhadap kepemilikan rumah bagi masyarakat kecil menengah.
Selain pembiayaan perumahan komersial, BSI menyatakan dukungan terhadap program tiga juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dengan harga jual mulai Rp 166 juta tergantung wilayah. Kontribusi pembiayaan untuk segmen ini disebut sekitar 9,44% dari keseluruhan pembiayaan griya.
Untuk memperluas jangkauan pembiayaan, BSI bekerja sama dengan 2.700 pengembang yang dapat diakses masyarakat, mencakup pembelian rumah ready stock, indent, maupun rumah second. Kemas menyatakan BSI akan melanjutkan penjualan rumah di kawasan strategis, terutama Jabodetabek dan kota-kota potensial lain, termasuk kawasan industri yang menyerap banyak tenaga kerja.
Optimisme tersebut, menurut Kemas, didasarkan pada kebutuhan rumah yang masih tinggi serta adanya berbagai stimulus ekonomi dari pemerintah, termasuk perpanjangan PPN DTP dan program tiga juta rumah bagi MBR.

