Bank Sentral Jepang (BOJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuannya di level 0,75% dalam pertemuan kebijakan pada 23 Januari. Keputusan ini diambil saat perekonomian menghadapi tekanan penurunan dari pergerakan yen menjelang pemilihan umum sela, sementara BOJ menyampaikan pandangan yang lebih optimistis terhadap prospek pertumbuhan ke depan.
Dalam penutupan pertemuan kebijakan moneter pertamanya pada 2026, BOJ juga menaikkan proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) untuk tahun fiskal mendatang. Perkiraan pertumbuhan untuk tahun fiskal yang berakhir pada Maret 2026 direvisi naik menjadi 0,9% dari sebelumnya 0,7% pada Oktober 2025. Proyeksi PDB untuk tahun fiskal 2026 turut dinaikkan dari 0,7% menjadi 1%.
BOJ menilai ekonomi Jepang menunjukkan tanda pemulihan yang lambat namun stabil. Salah satu pendorongnya, menurut bank sentral, adalah mulai meredanya dampak guncangan tarif sejak 2025 di negara-negara mitra dagang. Para pembuat kebijakan juga melihat terbentuknya siklus kenaikan upah dan harga secara bertahap, yang dinilai didukung stimulus ekonomi serta pelonggaran fiskal pemerintah.
Respons pasar muncul segera setelah hasil rapat diumumkan dengan komposisi suara 8 mendukung dan 1 menentang. Yen sempat menguat tipis ke sekitar 158 yen per dolar AS. Pada pekan yang sama, nilai tukar sempat menyentuh 158,5 yen per dolar AS, mendekati kisaran 159–160 yen per dolar AS yang dipandang sensitif karena investor menilai Kementerian Keuangan Jepang berpotensi melakukan intervensi langsung di level tersebut.
Di pasar obligasi, aksi jual pada surat utang pemerintah Jepang mendorong imbal hasil ke level tertinggi dalam beberapa dekade. Kondisi ini dikaitkan dengan suku bunga riil yang terus berada di wilayah negatif serta meningkatnya kekhawatiran atas besarnya utang publik Jepang.
Di sisi lain, peta jalan normalisasi kebijakan moneter BOJ disebut menghadapi tekanan politik. Perdana Menteri Sanae Takaichi, yang diperkirakan memperkuat posisinya setelah pemilihan 8 Februari, mendukung kebijakan suku bunga rendah untuk mendorong pertumbuhan. Takaichi juga merencanakan anggaran tambahan sebesar 783 miliar dolar AS untuk tahun fiskal 2026.
Perbedaan pandangan juga muncul di internal dewan kebijakan BOJ. Anggota Hajime Takata mengusulkan kenaikan suku bunga menjadi 1% karena kekhawatiran terhadap meningkatnya risiko harga. Namun, proyeksi resmi bank sentral memperkirakan inflasi secara bertahap turun di bawah target 2% pada semester pertama tahun ini.
Data terbaru menunjukkan indeks harga konsumen (CPI) keseluruhan pada Desember 2025 naik 2,1% secara tahunan. Meski menjadi kenaikan terendah sejak Maret 2022, angka tersebut menandai bulan ke-45 berturut-turut inflasi berada di atas target 2% BOJ. Kondisi ini memperkuat pandangan bank sentral bahwa kenaikan suku bunga diperlukan untuk merespons dinamika upah dan harga.
Menteri Keuangan Satsuki Katayama menyatakan pemerintah memantau perkembangan pasar dengan kewaspadaan tinggi. Peringatan berulang dari Kementerian Keuangan mengenai depresiasi yen turut membentuk keyakinan investor bahwa Tokyo dapat melakukan intervensi di pasar valuta asing kapan saja untuk menstabilkan mata uang domestik.

