Pasangan mata uang poundsterling terhadap yen Jepang (GBP/JPY) pada 26 Februari 2026 bergerak fluktuatif di kisaran 211–212 yen per pound. Pergerakan ini mencerminkan respons pasar terhadap kombinasi faktor kebijakan moneter Jepang dan Inggris, serta perubahan sentimen risiko global.
Sorotan utama datang dari Bank of Japan (BoJ) yang memicu volatilitas yen melalui ketidakpastian arah kebijakan. Komentar bernada hawkish dari Gubernur BoJ Kazuo Ueda, yang membuka peluang kenaikan suku bunga jika data mendukung, sempat memperkuat yen dan menekan GBP/JPY hingga sekitar 211,30. Namun, pasar kemudian melihat sinyal yang lebih dovish setelah Perdana Menteri Sanae Takaichi menunjuk seorang akademisi yang dinilai dovish ke dewan BoJ. Langkah ini menekan ekspektasi pengetatan agresif, membuat yen melemah dan GBP/JPY kembali mendekati 212,00.
Di sisi Inggris, perhatian pasar tertuju pada prospek inflasi dan implikasinya terhadap kebijakan Bank of England (BoE). Penurunan biaya energi melalui keputusan regulator Ofgem dipandang berpotensi meredakan tekanan inflasi domestik dalam beberapa bulan ke depan. Jika inflasi melunak lebih cepat dari perkiraan, pasar dapat mulai meningkatkan ekspektasi peluang pemangkasan suku bunga BoE, yang pada umumnya memberi tekanan pada pound terhadap yen.
Selain kebijakan bank sentral, sentimen risiko global tetap menjadi pendorong penting bagi yen yang kerap diperlakukan sebagai aset safe-haven. Saat ketidakpastian global meningkat, permintaan terhadap yen cenderung naik dan menekan GBP/JPY. Sebaliknya, ketika pasar berada dalam suasana risk-on, yen dapat melemah dan mendorong pasangan ini menguat. Dinamika ini kerap dipengaruhi oleh berita makro global, termasuk data ekonomi Amerika Serikat, perkembangan geopolitik, dan arah pasar saham.
Dari Jepang, data ekonomi juga menjadi faktor yang membuat pasar menilai ulang arah kebijakan BoJ. Inflasi inti Tokyo dan data produksi industri disebut menunjukkan dinamika yang moderat, sehingga BoJ dinilai masih berhati-hati dalam melakukan perubahan kebijakan. Penguatan atau pelemahan data semacam ini kerap menjadi pemicu pergeseran ekspektasi pasar terhadap langkah BoJ berikutnya, dengan dampak langsung pada pergerakan yen.
Secara teknikal, pergerakan GBP/JPY mencerminkan reaksi atas faktor-faktor fundamental tersebut. Pasangan mata uang ini terlihat bergerak dalam fase konsolidasi setelah rebound dari area support sekitar 207,00–208,00, sejalan dengan ketidakpastian pasar terkait arah kebijakan BoJ dan BoE.
Secara keseluruhan, pergerakan GBP/JPY pada hari ini terutama ditentukan oleh tiga hal: ekspektasi kebijakan moneter BoJ, prospek inflasi Inggris dan arah kebijakan BoE, serta perubahan sentimen risiko global yang memengaruhi permintaan safe-haven terhadap yen. Dengan kombinasi faktor tersebut, pasangan ini bertahan dalam rentang 211–212, sementara arah berikutnya masih bergantung pada data lanjutan dan sinyal kebijakan bank sentral dalam pekan-pekan mendatang.

