BERITA TERKINI
BKSDA Kalbar dan YIARI Selamatkan Bayi Orangutan yang Ditemukan Sendirian di Kebun Sawit Ketapang

BKSDA Kalbar dan YIARI Selamatkan Bayi Orangutan yang Ditemukan Sendirian di Kebun Sawit Ketapang

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) menyelamatkan seekor bayi orangutan betina tanpa induk yang ditemukan di perkebunan kelapa sawit warga di Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.

Dokter hewan YIARI, drh. Komara, mengatakan bayi orangutan yang kemudian diberi nama Jani itu dilaporkan warga terlihat berkeliaran selama beberapa hari di kebun sawit tanpa keberadaan induknya. Tim gabungan kemudian melakukan verifikasi lapangan dan memastikan satwa dilindungi tersebut berada dalam kondisi sendirian serta berisiko mengalami konflik dengan manusia.

Petugas sempat melakukan pencarian induk di sekitar lokasi, namun tidak membuahkan hasil. Untuk memastikan keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat.

Setelah observasi, evakuasi dilakukan tanpa menggunakan senjata bius atau anestesi dengan mempertimbangkan usia orangutan yang masih sangat muda. Tim menilai penggunaan obat bius dapat meningkatkan risiko, sehingga penanganan manual dipilih sebagai opsi paling aman dengan tetap memperhatikan tingkat stres dan kondisi fisiologis satwa.

Proses penangkapan berlangsung lancar. Jani kemudian dimasukkan ke kandang transport dan dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.

Hasil pemeriksaan awal memperkirakan usia Jani sekitar lima tahun. Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih bergantung penuh pada induknya. Di alam liar, ketergantungan itu umumnya berlangsung hingga usia 6–8 tahun untuk perlindungan, nutrisi, dan pembelajaran bertahan hidup, sehingga terpisah dari induk pada usia ini dinilai sangat berisiko.

Saat ini Jani ditempatkan di ruang karantina untuk pemulihan kondisi fisik dan mental, serta akan menjalani serangkaian pemeriksaan medis lanjutan.

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kasus ini mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa liar akibat fragmentasi lanskap dan ekspansi lahan. Ia mengapresiasi respons cepat masyarakat, BKSDA, dan tim lapangan, serta menekankan pentingnya pencegahan dan edukasi agar kejadian serupa tidak terulang.

Menurut YIARI, tim masih memantau kawasan sekitar perkebunan untuk mencari keberadaan induk Jani. Jika ditemukan, akan diupayakan proses reunifikasi. Namun bila tidak, Jani akan menjalani rehabilitasi hingga dinilai siap dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, juga menyampaikan apresiasi atas kolaborasi berbagai pihak dalam penyelamatan tersebut. Ia menilai kondisi Jani menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat orangutan masih tinggi dan edukasi kepada masyarakat perlu terus ditingkatkan untuk menjaga keanekaragaman hayati.

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa dilindungi yang populasinya terus menurun akibat hilangnya habitat dan konflik dengan aktivitas manusia.