BERITA TERKINI
BI Waspadai Dampak Eskalasi AS-Iran terhadap Ekonomi Global, Inflasi, dan Stabilitas Rupiah

BI Waspadai Dampak Eskalasi AS-Iran terhadap Ekonomi Global, Inflasi, dan Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi menekan perekonomian global sekaligus mendorong kenaikan inflasi. Dampak tersebut juga merembet ke pasar keuangan, termasuk melalui tingginya imbal hasil (yield) US Treasury di Amerika Serikat yang kemudian berpengaruh pada kenaikan suku bunga dan yield obligasi pemerintah di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia.

Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, bank sentral telah menyiapkan perhitungan serta skenario terkait potensi durasi eskalasi global di Timur Tengah. Skenario itu menjadi dasar bagi BI dalam mengkalibrasi kebijakan agar tetap optimal.

“Skenario-skenario ini yang kemudian dari sisi instrumen kami akan terus mengkalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respon mengenai suku bunga,” ujar Perry.

Menurutnya, penentuan bauran kebijakan antara intervensi nilai tukar, kecukupan cadangan devisa, dan respons suku bunga akan bergantung pada sejauh mana eskalasi konflik berlanjut. BI juga mencermati dampaknya terhadap harga minyak, pertumbuhan ekonomi dan inflasi global, pergerakan dolar Amerika Serikat, arus keluar portofolio dari negara berkembang, serta level yield US Treasury.

Salah satu sinyal kebijakan yang disampaikan BI adalah rencana untuk tidak lagi memangkas suku bunga, dengan fokus kebijakan bergeser ke arah stabilitas di tengah dinamika geopolitik yang memanas.

Dalam keputusan terbarunya, BI menahan suku bunga acuan atau BI Rate tetap di level 4,75%, sesuai dengan ekspektasi konsensus.