BERITA TERKINI
BI Tegaskan Komitmen Jaga Inflasi dan Stabilitas Keuangan Jelang Ramadan-Idulfitri di Tengah Ketidakpastian Global

BI Tegaskan Komitmen Jaga Inflasi dan Stabilitas Keuangan Jelang Ramadan-Idulfitri di Tengah Ketidakpastian Global

Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas inflasi nasional dan sistem keuangan menjelang momentum Ramadan serta Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri tahun ini. Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang berpotensi memengaruhi perekonomian dunia.

Deputi Gubernur BI Aida S. Budiman mengatakan bank sentral akan terus bersinergi dengan pemerintah dan para pemangku kebijakan untuk menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan domestik, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berdaya tahan.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga memastikan inflasi tetap terkendali,” ujar Aida dalam acara Kontan Share & Learn dan Bank Indonesia di Jakarta Pusat, Senin (2/3/2026).

Aida menjelaskan, terdapat tiga jalur utama yang menjadi perhatian BI dalam menjaga stabilitas harga dan sistem keuangan. Pertama, jalur harga komoditas global. BI memantau perkembangan harga komoditas strategis seperti minyak dan emas, serta dampaknya terhadap harga pangan domestik.

“Sekarang kami sudah mulai melihat bagaimana perkembangan harga minyak dan emas. Nanti juga penting melihat harga pangan, karena kalau harga minyak meningkat tentu akan berdampak pada biaya transportasi dan lain-lain,” jelasnya.

Kedua, jalur pasar keuangan, terutama pergerakan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi dinamika pasar global. Ketiga, jalur volume perdagangan yang dinilai berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi dan inflasi.

“Bank Indonesia akan terus melakukan monitoring terhadap indikator-indikator terkini melalui tiga channel tersebut,” kata Aida.

Ia menambahkan, kondisi ekonomi global masih berada dalam fase dinamis dan penuh ketidakpastian. Selain tren perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia, pasar juga dihadapkan pada ketidakpastian kebijakan suku bunga global serta memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

“Kalau kami melihat pertumbuhan ekonomi global, keyword -nya adalah dinamis dan penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Di sisi domestik, prospek ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai tetap terjaga. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada pada kisaran 4,9% hingga 5,7%, dengan inflasi tetap dalam target 2,5% plus minus 1%.

Aida menyebut, momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 diperkirakan didorong oleh meningkatnya konsumsi masyarakat selama periode HBKN serta belanja pemerintah.

“Pada kuartal pertama ini ada banyak HBKN yang mendorong masyarakat melakukan spending. Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan belanja untuk memastikan berbagai program berjalan dengan baik,” jelasnya.

Peningkatan konsumsi pemerintah dan swasta tersebut diharapkan dapat menjaga permintaan domestik di tengah ketidakpastian global.

“Di tengah kondisi global yang dinamis dan penuh ketidakpastian, kami kembali pada modal utama yaitu menjaga permintaan domestik,” katanya.

Selain itu, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan tetap terkendali pada kisaran minus 0,1% hingga 0,9% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara pertumbuhan kredit diproyeksikan berada di kisaran 8% hingga 12% pada tahun ini.

Aida menegaskan BI akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, serta merespons kebijakan secara lebih utuh pada saatnya melalui Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan.

“Komitmen Bank Indonesia tetap menjaga stabilitas. Itu saya garis bawahi dan kami terus berada di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar terjaga, termasuk juga inflasi. Dan nanti pada saatnya kami akan merespons kebijakan yang lebih utuh lagi pada saat RDG bulanan,” ujar Aida.