Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 melambat menjadi 3,2 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan 2025 yang diperkirakan sebesar 3,3 persen. Proyeksi ini disampaikan Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada Rabu, 21 Januari 2026.
Perry menyatakan perekonomian global masih berada dalam tren perlambatan, disertai ketidakpastian yang meningkat. Menurutnya, pertumbuhan yang lebih rendah terutama dipengaruhi dampak lanjutan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) serta kerentanan rantai pasok global.
Di sisi lain, Perry menyebut prospek perekonomian AS membaik, ditopang investasi di sektor teknologi termasuk artificial intelligence (AI) dan stimulus fiskal berupa pengurangan pajak. Namun, sejumlah ekonomi besar lain diperkirakan mengalami perlambatan.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Jepang, Tiongkok, dan India pada 2026 melambat akibat pelemahan permintaan domestik dan ekspor, meski investasi AI di negara-negara tersebut juga meningkat.
Dari sisi pasar keuangan global, BI menilai ruang penurunan Fed Funds Rate (FFR) semakin terbatas. Kondisi ini disertai masih tingginya yield US Treasury (UST) sejalan dengan defisit fiskal AS yang masih besar.
Perry menambahkan, ketidakpastian pasar keuangan global meningkat, terutama dipicu kebijakan tarif resiprokal AS serta meluasnya eskalasi ketegangan geopolitik. Perkembangan tersebut, menurutnya, menahan peningkatan aliran modal ke emerging market dan mendorong penguatan indeks mata uang dolar AS terhadap mata uang negara maju (DXY).
BI menilai situasi ini membutuhkan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi domestik dari rambatan global, sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi.

