BERITA TERKINI
BI Perkirakan Ekonomi Kalimantan Timur Tumbuh Lebih Tinggi pada 2026, Ditopang Industri dan Konstruksi

BI Perkirakan Ekonomi Kalimantan Timur Tumbuh Lebih Tinggi pada 2026, Ditopang Industri dan Konstruksi

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur memperkirakan ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) akan tumbuh lebih tinggi pada 2026, meski masih dihadapkan pada tantangan global seperti permintaan dunia yang terbatas dan ketidakpastian ekonomi yang tinggi.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur, Budi Widihartanto, menyampaikan proyeksi tersebut dalam sesi tanya jawab bersama wartawan pada kegiatan Temu Media di Samarinda, Rabu (21/1/2026). Ia menyebut terdapat potensi peningkatan pada sektor industri pengolahan dan konstruksi pada tahun ini.

Menurut Budi, hingga Triwulan III 2025, pertumbuhan ekonomi Kaltim tercatat 4,35%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 yang mencapai 6,17%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Kalimantan hingga Triwulan III 2025 berada di angka 4,65%, juga lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 5,2%.

Untuk 2026, Budi menjelaskan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Kaltim berasal dari lapangan usaha industri pengolahan, seiring rencana penambahan kapasitas refinery migas sekitar 50 barel per hari dibandingkan 2025. Selain itu, pengembangan eksplorasi sumur gas sejak akhir 2025 dinilai berpotensi meningkatkan produksi industri produk turunan pada 2026.

Dari sisi konstruksi, pertumbuhan sektor ini diperkirakan ditopang oleh rencana pembangunan sejumlah proyek besar di Ibu Kota Nusantara (IKN). Salah satu yang disorot adalah pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif, yang diprakirakan membutuhkan anggaran 6% (yoy) lebih tinggi dibandingkan anggaran 2025. Budi juga menyebut proyek investasi swasta bernilai besar, termasuk di kawasan industri (KI) dan kawasan ekonomi khusus (KEK), turut mendukung kinerja sektor konstruksi pada 2026.

Sektor pertanian juga disebut berpotensi mendukung pertumbuhan. Pada 2026, target oplah dan CSR Kaltim ditingkatkan seiring tertundanya sejumlah program oplah pada 2025 akibat keterbatasan anggaran. Target ke depan disebut mencapai 3.000 hektare.

Meski demikian, BI menilai terdapat faktor penahan pertumbuhan, terutama dari sektor pertambangan. Permintaan batu bara dari Tiongkok diprakirakan menurun 1,49% (yoy), sejalan dengan penurunan permintaan dari negara mitra dagang lainnya di tengah berlanjutnya transisi menuju energi terbarukan.

Di sektor pertanian, kondisi La Nina atau cuaca basah pada 2026 serta perkiraan peningkatan luas replanting TBS pada akhir 2025 dinilai berisiko menurunkan produksi TBS.