BERITA TERKINI
BGN Jalankan Mak Comblang Project untuk Hubungkan Petani dan Dapur Program Makan Bergizi Gratis

BGN Jalankan Mak Comblang Project untuk Hubungkan Petani dan Dapur Program Makan Bergizi Gratis

Badan Gizi Nasional (BGN) memulai langkah strategis untuk memperkuat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui Mak Comblang Project, sebuah inisiatif yang dirancang mempertemukan petani secara langsung dengan dapur MBG. Program ini ditujukan untuk memangkas rantai pasok pangan yang selama ini dinilai menimbulkan ketimpangan antara produksi di tingkat petani dan kebutuhan riil dapur MBG, khususnya di wilayah Jakarta dan Bogor.

Langkah awal Mak Comblang Project ditandai dengan pertemuan koordinasi bersama petani dan gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Cipanas, Kabupaten Cianjur, pada Senin (19/1/2026). Pertemuan tersebut menjadi forum pemetaan awal rantai pasok guna melihat kondisi lapangan, baik dari sisi kapasitas produksi maupun kebutuhan dapur MBG.

Juru bicara BGN, Dian Fatwa, menyampaikan bahwa selama ini petani dan dapur MBG berjalan pada jalur yang terpisah. Ia mencontohkan situasi di Cipanas, di mana petani mengalami kelebihan pasokan, sementara dapur MBG di Jakarta dan Bogor justru kesulitan memperoleh bahan baku dengan harga yang stabil. Menurutnya, Mak Comblang Project hadir untuk menghubungkan dua sisi tersebut secara langsung.

Dari pemetaan awal, BGN menemukan adanya kesenjangan volume produksi dan kebutuhan yang cukup besar. Pada komoditas jagung, misalnya, kapasitas produksi petani Cipanas berada di kisaran 30 ton per bulan, sedangkan kebutuhan dapur MBG di Jakarta sekitar 240 ton per bulan. Kesenjangan ini dinilai menunjukkan perlunya perencanaan produksi yang lebih selaras dengan kebutuhan.

Selain persoalan volume, pertemuan itu juga mengungkap disparitas harga di lapangan. Dian mencontohkan komoditas wortel, di mana dapur MBG kerap membeli dengan harga Rp15 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, sementara petani menerima sekitar Rp1.500 hingga Rp3.000 per kilogram di tingkat kebun. Ia menyebut disparitas tersebut bukan disebabkan satu pihak, melainkan dampak dari rantai pasok yang panjang dan tidak terhubung secara langsung.

Melalui Mak Comblang Project, BGN mulai memetakan komoditas, volume produksi, dan kebutuhan dapur secara terbuka. Hasil pemetaan ini akan menjadi dasar penyusunan kalender tanam dan kalender panen, agar panen dapat dilakukan bertahap dan berkelanjutan.

BGN berharap pola tersebut dapat memberi kepastian pasar dan harga yang layak bagi petani, sekaligus memastikan pasokan bahan baku yang stabil bagi dapur MBG. Ke depan, penyusunan menu MBG juga akan diselaraskan dengan ketersediaan produksi petani lokal, dengan melibatkan ahli gizi agar kualitas dan kecukupan gizi tetap terjaga.

Dengan mempertemukan langsung petani dan dapur, Mak Comblang Project diharapkan mampu mendorong kolaborasi yang saling menguntungkan serta memperkuat ketahanan pangan berbasis masyarakat.