Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat minat perusahaan untuk melantai di pasar saham masih terjaga hingga awal kuartal II 2026. Hingga Jumat, 10 April 2026, terdapat 15 perusahaan yang masuk dalam pipeline pencatatan saham di BEI.
Direktur Penilaian BEI I Gede Nyoman Yetna menyampaikan jumlah tersebut menunjukkan pipeline IPO masih aktif. “Terdapat 15 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dikutip Ahad, 12 April 2026.
Pipeline merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani proses menuju penawaran umum perdana saham (IPO), mulai dari pengajuan dokumen, evaluasi oleh regulator, hingga menunggu jadwal pencatatan. Perusahaan yang masuk pipeline belum tercatat di bursa, namun sudah berada dalam tahapan menuju pasar modal.
Dari sisi skala aset, mayoritas perusahaan dalam pipeline tergolong beraset besar. Berdasarkan klasifikasi POJK Nomor 53/POJK.04/2017, sebanyak 11 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar. Sementara itu, 4 perusahaan berada pada kategori aset menengah dengan nilai aset Rp50 miliar hingga Rp250 miliar. Tidak ada perusahaan dalam pipeline yang masuk kategori aset kecil di bawah Rp50 miliar.
Secara sektoral, pipeline IPO didominasi sektor kesehatan (healthcare) dengan porsi 26,7% atau 4 perusahaan. Setelah itu, sektor consumer non-cyclicals diisi 3 perusahaan, disusul consumer cyclicals sebanyak 2 perusahaan. Sektor infrastructures dan technology masing-masing menyumbang 2 perusahaan, sedangkan sektor energy dan financials masing-masing 1 perusahaan. Adapun sektor basic materials, industrials, properties dan real estate, serta transportation dan logistik tidak tercatat dalam pipeline IPO saat ini.
Di luar IPO, aktivitas penghimpunan dana melalui obligasi, efek bersifat utang, dan sukuk (EBUS) juga tercatat kuat. Hingga saat ini, telah diterbitkan 50 emisi dari 33 penerbit dengan total dana yang dihimpun Rp55,20 triliun. Selain itu, terdapat 40 emisi dari 28 penerbit yang masih berada dalam pipeline obligasi.
Untuk pipeline obligasi, sektor financials menjadi yang paling dominan dengan porsi 52,5% atau 14 perusahaan. Berikutnya sektor infrastructures sebanyak 7 perusahaan (sekitar 22,5%), disusul sektor energy sebanyak 3 perusahaan. Sektor basic materials dan consumer non-cyclicals masing-masing menyumbang 2 perusahaan.
Sementara itu, untuk aksi korporasi rights issue, hingga 10 April 2026 terdapat 3 perusahaan tercatat yang menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp3,75 triliun. Rights issue merupakan aksi penambahan modal dengan memberikan hak kepada pemegang saham lama untuk membeli saham baru. Saat ini masih ada 1 perusahaan dalam pipeline rights issue yang berasal dari sektor properties dan real estate.
Nyoman sebelumnya juga menyampaikan harapan agar pencatatan IPO dapat berlangsung sekitar bulan tersebut, dengan batas maksimal Juni 2026. “Harapan kita memang pencatatannya sekitar bulan ini, maksimal bulan Juni,” ujarnya di Gedung BEI, Jakarta, pada Jumat, 10 April 2026.
Secara umum, data tersebut menggambarkan pasar modal masih menjadi alternatif pendanaan bagi dunia usaha, dengan pipeline IPO yang masih berisi 15 perusahaan di tengah dinamika ekonomi global.