Seekor bayi orangutan jantan bernama Jack ditemukan warga di area kebun kelapa sawit di Desa Miau Baru, Kecamatan Kongbeng, Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Kalimantan Timur. Satwa dilindungi itu kini menjalani perawatan dan rehabilitasi di Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam.
Jack ditemukan pada akhir November 2025 dalam kondisi memprihatinkan. Bayi orangutan tersebut sempat dirawat oleh keluarga warga selama tiga hari sebelum akhirnya dilaporkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur.
Founder dan Direktur Conservation Action Network (CAN), Paulinus Kristanto, mengatakan laporan warga ditindaklanjuti hingga dilakukan penyelamatan. “Jack ditemukan oleh warga di salah satu perkebunan. Setelah tiga hari dirawat, pihak yang menemukan melaporkan ke BKSDA Kalimantan Timur untuk dilakukan penyelamatan. Selanjutnya Jack diserahkan kepada CAN untuk menjalani perawatan,” kata Paulinus saat diwawancarai, Minggu (25/1/2026).
Menurut Paulinus, kondisi Jack saat pertama kali tiba di pusat perawatan tergolong mengkhawatirkan. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan Jack mengalami demam, stres, dehidrasi ringan, serta luka lecet pada telapak tangan dan kaki yang diduga akibat duri kelapa sawit. Pada telapak kaki kiri juga ditemukan duri yang menyebabkan luka bernanah.
“Tubuhnya sangat kurus atau BCS 1, usianya diperkirakan belum genap satu tahun. Saat datang, Jack demam dan terlihat sangat stres,” ujarnya.
Setelah menjalani perawatan intensif oleh tim medis, kondisi Jack dilaporkan membaik. Demamnya mulai menurun, nafsu makan buah dan konsumsi susu terpantau stabil, serta hasil pemeriksaan feses tidak menunjukkan adanya infeksi parasit.
“Luka-luka akibat duri sudah mulai sembuh. Pemeriksaan darah juga menunjukkan tidak ada kelainan. Sekarang Jack sudah bisa dibawa ke playground untuk bermain,” kata Paulinus.
Dalam proses rehabilitasi, Jack mulai dikenalkan untuk berinteraksi dengan dua orangutan lain bernama Hannes dan Lukas. Meski masih cenderung menyendiri, perilaku tersebut dinilai wajar untuk orangutan seusianya. “Bagi keeper, ini justru pertanda baik. Jack mulai beradaptasi dan tidak lagi takut dengan manusia,” tambah Paulinus.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kalimantan Timur M Ari Wibawanto menegaskan penyelamatan Jack merupakan bagian dari upaya negara melindungi satwa liar yang dilindungi. “Jack adalah salah satu orangutan yang kita ambil dari masyarakat dan ditempatkan di Pusat Penyelamatan Satwa Long Sam. Kami menerima informasi dari warga dan langsung menindaklanjuti,” ujar Ari.

